twitter




Abstrak

Dalam penellitian ini, dalam penganalisisan peneliti lebih memfokuskan pada unsur moralitas yang terdapat dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM. Dalam penelitian ini, peneliti membagi bagian (pembahasan) menjadi delapan bagian. Bagian pertama, berisi tentang latar belakang dari penelitian ini. Dalam bagian ini, peneliti memaparkan tentang apa alasan peneliti mengambil topik yang diambil sebagai penelitian, pentingnya peneliti mengambil topik yang diambil sebagai penelitian, dan manfaat yang dapat diperoleh dari topik yang dikaji oleh penelit tersebut. Pada bagian kedua, peneliti memaparkan tentang masalah yang telah dirumuskan oleh peneliti sebagai bahan penganalisisan, yang terdiri dari moral baik dan moral buruk dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM. Bagian ketiga, peneliti memaparkan tentang tujuan dari penelitian, yaitu untuk pendeskripsian moral baik dan buruk dalam novel “umang” karya Ferry Irawan AM. Bagian keempat, peneliti memaparkan tentang landasan teori yang digunakan (berkaitan) dengan penelitian, yaitu tentang pengertian sastra, pengertian novel, unsur-unsur pembangun novel, pengertian moralitas, macam-macam moralitas, dan bentuk moralitas.
Sedangkan pada bagian kelima, peneliti memaparkan tentang metode penelitian, yaitu pembahasannya tentang metode yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian, sumber data yang digunakan peneliti, jenis data yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian, dan instrumen yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian. Pada bagian keenam, peneliti memaparkan tentang hasil penelitian, yaitu tentang pendeskripsian moralitas yang terdapat dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM, yang terdiri dari moral baik dan moral buruk. Moral baik terdiri dari kesabaran, tawakal, berjiwa kepemimpinan, suka menolong, taqwa, dan taat beribadah. Sedangakn moral buruknya terdiri dari buruk sangka dan pemarah. Pada bagian ketujuh, peneliti memaparkan tentang penutup penelitian, yang berisi tentang simpulan dan saran. Dan bagian terakhir pada penelitian ini, yakni tentang daftar rujukan yang digunakan peneliti sebagai penunjang kelancaran dalam proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti. 

1.     Latar Belakang
Dalam penelitian novel “Umang” karya Ferry Irawan AM ini, sesuai dengan judul yang diambil peneliti yaitu Moralitas dalam Novel “Umang” Karya Ferry Irawan, maka penelitian mengacu pada pendeskripsian tentang moralitas yang terkandung atau tercermin dalam setiap tokoh yang ada dalam novel tersebut. Adapun alasan mengapa peneliti lebih menekankan penelitian pada pendeskripsian moralitas yang terkandung dalam novel “Umang” Karya Ferry Irawan AM, yaitu agar mengetahui bagaimana moralitas yang digambarkan oleh pengarang pada setiap tokoh yang ada dalam novel, baik tokoh utama atau pun tokoh tambahan (pembantu) yang ada dalam novel “UmangFerry Irawan AM tersebut.
Pentingnya penelitian ini yaitu agar dapat dijadikan sebagai gambaran dalam memahami sebuah karya sastra, apabila kita dalam membaca sebuah karya sastra (novel) mengetahui tentang moralitas yang tercermin dalam novel, yang digambarkan pengarang melalui tokoh-tokoh yang ada dalam novel, maka kita (pembaca) dapat mengetahui pencerminan moral pengarang pada setiap tokoh yang ada dalam novel dan memperoleh pelajaran dari pencerminan moral-moral itu, yang merupakan bentuk penyampaian pesan dari pengarang sebagai contoh atau motivasi hidup bagi para setiap pembacanya.
Dari penelitian ini, peneliti berharap agar dari hasil penelitian dapat bermanfaat bagi para pembacanya, misalnya saja dapat dijadikan sebagai masukan dan referensi dalam ilmu pengetahuan sastra, khususnya pada pengkajian yang sesuai dengan topik pembahasan yang diambil peneliti.

2.     Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.      Bagaimana moral baik dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM?
b.     Bagaimana moral buruk dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM?


3.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang dibahas dalam penelitian ini, maka dapat diambil beberapa tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian itu yaitu untuk:
a.     Mendeskripsikan moral baik dalam novel “Umang” Karya Ferry Irawan AM.
b.     Mendeskripsikan moral baik dalam novel “Umang” Karya Ferry Irawan AM.

4.     Landasan Teori
Dalam penelitian ini dipakai seperangkat teori yang berhubungan dengan penelitian yang berjudul analisis karakter tokoh dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata. Dalam tinjauan pustaka ini dibahas tentang: (1) pengertian sastra, (2) pengertian novel, (3) unsur pembangun novel, (4) pengertian moral (moralitas), (5) macam-macam moral, dan (6) bentuk-bentuk moral.

A.    Pengertian Sastra
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi bukan semata - mata sebuah imitasi (dalam Luxemburg, 1989: 5). Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra, pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu, 2004: 2).
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa. Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Novel cerita/cerpen (tertulis/lisan), syair, pantun, sandiwara/drama, lukisan/kaligrafi

B.    Pengertian Novel
Novel bersifat expands “meluas” dan cenderung menitikberatkan complexity “kompleksitas”. Sebuah novel jelas tidak dapat dibaca selesai dalam sekali duduk. Karena panjangnya sebuah novel sastra khusus cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu. Jadi, salah satu efek perjalan waktu dalam novel inilah perkembangan karakter tokoh. Novel memungkinkan kita untuk menangkap perkembangan karakter tokoh.
Novel juga memungkinkan adanya penyajian panjang lebar tentang tempat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang selalu menarik perhatian para novelis. Masyarakat memiliki dimensi ruang dan waktu, sebuah masyarakat jelas berhubungan dengan dimensi tempat, tetapi peranan seseorang tokoh dalam masyarakat beruabah dan berkembang dalam waktu, karena panjang novel memungkinkan dalam menentukan bagaimana karakter itu.
Menurut Suhendar dan Supinah (1993: 194), novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, yang menguraikan peristiwa kehidupan seseorang yang luar biasa, dan berakhir dengan perubahan nasib kehidupan pelakunya. Sedangkan menurut Sudjiman (1984: 53), novel adalah prosa rekaan yang panjang yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun.
Jadi novel adalah cerita yang berbentuk prosa dengan ukuran yang luas, yang memiliki plot (alur) yang kompleks, karakter, tema, setting yang beragam dan menguraikan peristiwa kehidupan seseorang yang berakhir dengan perubahan nasib kehidupan serta bersifat expands “meluas”.

C.    Unsur Pembangun Novel
Novel dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah segala unsur atau elemen yang membangun karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur karya sastra tersebut di antaranya: alur atau plot, penokohan dan perwatakan, setting, sudut pandang atau point of view, gaya dan tema. Sedangka unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar karya sastra, yang meliputi hubungan karya sastra dengan faktor historis, hubungan karya sastra dengan religius, sosiologi, psikologis, dan sebagainya.

o   Alur atau plot
Menurut Bowen (via jiwa, 1986: 46) bahwa plot sebuah cerita dalam arti sarana untuk membohong pada anak-anak, diminta kebohongan itu dapat menghiburnya. Dalam pandangan ini, novel pun dianggap Bowen sebagai kebohongan karena harus mengadakan sesuatu yang terjadi di dalam karya itu namun sebenarnya tidak pernah terjadi. Oleh karena itu,sebuah novel seharusnya mengungkapkan suatu kebenaran di dalam suatu kebohongan.
Menurut Aminuddin (1997: 87), alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Lain lagi menurut Wellek dan Waren (1990: 285), alur novel adalah struktur dari sebuah struktur yang lebih besar.
Adapun tahapan-tahapan peristiwa diawali oleh komplikasi, konflik, klimaks, peleraian, penyelesaian, dan akhiri perkenalan (Aminuddin, 1987: 84). Montage dan Hensaw (via Aminuddin 1987: 84) menjelaskan tahapan peristiwa dalam plot meliputi: 1) exposisi, yakni tahapan yang berisi penjelasan tentang tempat terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang mendukung cerita; 2) inciting force, yakni tahap ketika timbul kekuatan, kehendak maupun perilaku yang bertentangan dari pelaku; 3) rising action, yakni situasi yang panas karena pelaku dalam cerita mulai berkonflik; 4) crisis, yakni situasi semakin panas dan para pelaku sudah diberi gambaran oleh  pengarangnya; 5) climax, yakni situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri-sendiri; 6) falling action, yakni kadar konflik sudah menurun sehingga ketegangan dalam cerita sudah mulai mereda sampai menuju conclusion atau penyelesaian cerita.
Menurut Loban (via Aminuddin, 1987: 84) dan kawan-kawan mengatakan bahwa tahapan-tahapan alur atau plot meliputi: (1) eksposisi, (2)komplikasi, (3) klimaks, (4) relevansi atau penyingkapan suatu problema, (5) penyelesaian atau denovment.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa alur dalam fiksi (novel) ada 5 yaitu: (1) eksposisi, (2) komplikasi, (3) klimaks, (4) relevansi atau peningkatan suatu problema, (5) penyelesaian atau denovment (Loba (via, Aminuddin, 1987: 84).

o   Penokohan dan Perwatakan
      Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita yang disebut tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku disebut penokohan (Aminuddin, 1987: 79).
      Boulton (via Aminuddin, 1987: 79) mengungkapkan bahwa cara pengarang menggambarkan atau memunculkan tokohnya itu dapat berbagai macam. Mungkin pengarang menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup dalam mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam mempertahankan hidupnya, pelaku yang memiliki cara sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya, maupun pelaku yang egois, kacau dan mementingkan diri sendiri. Adapun bentuk penokohan yang paling sederhana adalah pemberian nama. Setiap sebutan adalah sejenis cara memberi kepribadian, menghidupkan (Wellek & Waren, 1990: 287).
      Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam cerita disebut tokoh inti atau utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peran tidak penting karena pemuculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utam disebut tokoh tambahan atau tokoh pelaku (Aminuddin, 1987: 80).
      Tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari, selalu memiliki watak masing-masing. Misalnya: (1) pelaku protagonis, yakni pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca; (2) pelaku antagonis, yakni pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca.
      Dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menulusuri lewat: (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik peakunya; (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian; (3) menunjukkan bagaimana perilakunya; (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri; (5) memahami bagaimana jalan pikirannya; (6) melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya; (7) melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya; (8) melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain itu memberikan reaksi terhadapnya; dan (9) melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh lainnya (Aminuddin, 1987: 80-81).
      Selain terdapat pelaku utama, pelaku tambahan, pelaku protagonis dan pelaku antagonis, juga terdapat berbagai macam pelaku yaitu: (1) simple charakter, pelaku yang tidak banyak menunjukkan adanya kompleksitas masalah, umumnya adalah pelaku tambahan; (2) complex charakter, yakni pelaku yang pemunculannya banyak dibebani permasalahan, umumnya adalah pelaku utama; (3) pelaku dinamis, yakni pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya; (4) pelaku statis, yakni pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita berakhir (aminuddin, 1987: 82-83).
     Menurut Sumardjo (1986: 65-66) ada beberapa cara untuk mengenali tokoh dan karakternya, yakn:
a.      Melalui apa yang diperbuat oleh tokoh
Tindakan serta hidup tokoh dalam mengahadpi dan menyelesaikan persoalan dapat menunjukkan sikap serta karakter dari tokoh yang bersangkutan.
b.     Melalui ucapan-ucapannya
Dari apa yang pembaca akan mengenali siapa tokoh-tokoh tersebut. Dari ucapan dapat menyimpulkan tokoh tersebut pria, tua, muda, dan suku mana.
c.      Melaui penggambaran fisik tokoh
Untuk memperkuat penggambaran watak tokoh, pengarang sering menggambarkan secara deskripsi fisik tokoh, misalnya bentuk tubuh, wajah. Maka dari penggambaran fisik tersebut pembaca juga dapat mengenali karakter tokoh.
d.     Melalui pikiran-pikirannya
Tidak jarang dalam cerita rekaan terungkap apa yang dipikirkan tokoh tersebut pembaca dapat mengenali karakter tokoh yang bersangkutan.
e.      Melalui penerangan langsung
Dalam hal ini pengarang sudah memberi gambaran langsung tentang watak dan karakter tokohnya.

o     Setting
    Setting dalam prosa fiksi nerupakan latar peristiwa baik yang berupa latar waktu,  latar tempat maupun latar peristiwa. Aminuddin (1987: 67-72) mengatakan bahwa setting sebagai latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis. Perbedaan antara setting fisikal dengan setting psikologi adalah: (1) setting fisikal berhubungan dengan tempat serta benda-benda dalam lingkungan tertentu, hanya terbatas pada fisk, untuk memahami setting ini pembaca cukup melihat dari apa yang tersurat; (2) setting psikologis berhubungan dengan lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu makna serta mampu mengajak emosi pembaca berupa suasana maupun sikap, serta jalan pikiran suatu lingkungan masyarakat tertentu, untuk memahami setting ini membutuhkan adanya pengahayatan dan penafsiran (Aminuddin, 1987: 68-70).

o   Titik pandang atau point of view
    Menurut Aminuddin (1987: 90-91), titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya. Titik pandang meliputi: (1) narator ominiscient, yakni narator atau pengisah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita; (2) narator observer, yakni bila pengisah berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku cerita serta hanya  tahu dalam batas tertentu tentang batiniah para pelaku; (3) narator observer ominiscient, yakni pengarang menjadi pengamat dari pelaku; (4) narator the third person ominiscient.
    Menurut Sumardjo & Saini (1986: 82-85) point of view adalah sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Titik pandang meliputi: (1) omniscient paoin of view, yakni pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya; (2) objective point of view, yakni pengarang sama sekali tidak memberi komentar apapun, pengarang sama sekali tidak mau masuk ke dalam para pikiran pelaku; (3) point of view orang pertama, yakni pengarang bercerita dengan sudut pandan “aku” jadi pengarang seperti menceritakan pengalamannya sendiri. Dengan teknik ini pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang langsung bersangkutan; (4) point of view peninjau, yakni pengarang memilih salah satu contoh untuk bercerita.
    Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku serta kejadian dalam cerita yang dipaparkan.

o   Gaya bahasa atau style
    Menurut Sumardjo dan Saini (1986: 92), gaya bahasa adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebauah novel. Dengan kata lain gaya adalah perilaku pengarang itu sendiri.
    Menurut Aminuddin (1987: 72), gaya bahasa adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasan dengan menggunakan bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat daya intelektual dan emosi pembaca. Menurut Scharbach (via Aminuddin, 72) gaya sebagai hiasan, serta sesuatu yang suci sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri.
    Dari penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan dan mengungkapkan gagasannya menggunakan bahasa yang indah dan harmonis.

o   Tema
    Tema adalah sebauah cerita. Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar ingin bercerita, tetapi ingin mengatakan sesuatu kepada pembacanya. Misalnya masalah tentang kehidupan, pandangan hidup tentang kehidupan atau berkomentar terhadap kehidupan. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semuanya didasari oleh ide pengarang tersebut. Tema tidak perlu berwujud moral, atau ajaran moral.tetapi tema bisa berwujud pengamatan pengarang terhadap kehidupan. Pengarang bisa saja hanya mengemukakan suatu masalah kehidupan dan problem tersebut tidak perlu dipecahkan. Pengarang sering menyatakan ide atau temanya dalam unsur cerita (Sumardjo & Saini, 1986: 56.
    Dalam menemukan tema dari sebuah cerita rekaan harus diperhatikan beberapa hal, yakni:
a.      Memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca.
b.     Memahami penokohan dan perawatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca.
c.      Memahami plot dan alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca.
d.     Menentukan sikap ke dalam pokok-pokok pikiran yang ditampilkan.
e.      Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta mengumpulkanide dasar cerita yang dipaparkan (Aminuddin, 1987: 92).
     Dari hal tersebut tampaklah bahwa dalam menentukan tema dari sebuah cerita juga tergantung pada unsur-unsur cerita rekaan yang lain. Hal itu mengingat antara unsur cerita rekaan yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan saling mendukung dalam menyusun dan membentuk cerita rekaan.

D.    Pengertian Moral (Moralitas)
      Jika moral diartikan sebagai [sesuatu] yang menyangkut mengenai baik-buruknya manusia sebagai manusia, maka moralitas adalah keseluruhan norma, nilai dan sikap moral seseorang atau sebuah masyarakat, jadi moralitas adalah kompleksitas moral dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Suatu hal yang harus disadari sejak awal adalah bahwa apabila kita memberikan penilaian terhadap seseorang, maka ukuran (norma moral) tersebut data dari kita, bukan dari yang bersangkutan (orang yang dinilai). Itulah sebabnya penilaian tersebut pada hakikatnya bersifat subjektif.
      Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, yang harus dan yang tidak pantas dilakukan baik keharusan alamiah maupun keharusan moral. Keharusan alamiah terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam. Sedangkan, keharusan moral bahwa hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
      Adapun pembahasan tentang moral (moralitas) penulis mencuplik beberapa tulisan yang berada dalam skripsi yang dimuat dalam situs ini (http://kajiansastra.blogspot.com/2011/08/analisis-nilai-moral-dalam-novel.html) yaitu sebagai berikut, Seperti diketahui kata moral berasal dari kata Latin “mos” yang berarti kebiasaan, kata mos jika akan dijadikan kata keterangan atau kata nama sifat lalu mendapat perubahan pada belakangnya, sehingga kebiasaan jadi moris, dan moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Moral menurut Salam (2000: 12) adalah ilmu yang mencari keselarasan perbuatan-perbuatan manusia (tindakan insani) dengan dasar-dasar yang sedalam-dalamnya yang diperoleh dengan akal budi manusia.
      Adapun moral secara umum mengarah pada pengertian ajaran tentang baik buruk yang diterima mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan sebagainya. Remaja dikatakan bermoral jika mereka memiliki kesadaran moral yaitu dapat menilai hal-hal yang baik dan buruk, hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta hal-hal yang etis dan tidak etis. Remaja yang bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta pada perilakunya yang baik, benar, dan sesuai dengan etika, Selly Tokan (dalam Asri Budiningsih, 1999: 5).
      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa moral merupakan ajaran  baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, kewajiban, susila dan sebagainya (KBBI, 2008: 754).
      Moral menurut Darajat (dalam Kamaruddin, 1985: 9) adalah kelakuan yang sesuai ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut. Tindakan ini haruslah mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

E.    Macam-macam Moral
      Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan, dan kelakuan (akhlak). Demoralisasi berarti kerusakan moral. Moral juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a.      Moral murni, yaitu moral yang terdapat pada setiap manusia, sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran ilahi. Moral murni disebut juga hati nurani.
b.     Moral terapan, adalah moral yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran filosofis, agama, adat yang menguasai pemutaran manusia.
Kata moral selalu mengacu kepada baik buruk manusia. Sikap moral disebut juga moralitas yaitu sikap hati seseorang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih dan hanya moralitaslah yang dapat bernilai secara moral. Nilai moral dapat diperoleh di dalam nilai moralitas. Moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan dengan hukum atau norma batiniah, yakni dipandang sebagai kewajiban.

F.     Bentuk-bentuk Moral
Menurut Kohlberg (1977: 5) penalaran atau pemikiran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral. Oleh karena itu, untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya dapat ditelusuri melalui penalarannya. Artinya pengukuran moral yang benar tidak sekadar mengamati perilaku moral yang tampak, tetapi harus melihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku tersebut.
Bila dikatakan bahwa karya sastra itu semata-mata tiruan alam, maka dengan sendirinya sastra itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang tidak memperjuangkan kebenaran. Dalam kenyataan ukuran kebenaran merupakan ukuran yang sering digunakan dalam menilai suatu karya sastra. Pembaca sering mempertanyakan tentang sesuatu yang diungkapkan pengarang itu mempunyai hubungan dengan kebenaran. Nilai-nilai moral atau lainnya dalam kehidupan sehari-hari, sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah model-model atau sosok yang sengaja ditampilkan pengarang sebagai sikap dan tingkah laku yang baik atau diikuti minimal dicenderungi oleh pembaca. Dengan demikian aspek moral adalah segala aspek yang menyangkut baik buruknya suatu perbuatan. Dalam hal ini mengenai sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan susila. Adapun bentuk-bentuk moral sebagai berikut:

a.      Sosial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosial adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, dan sebagainya (KBBI, 2008: 1085). Manusia dijadikan Allah swt., dalam bentuk yang tidak hidup sendirian, karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnya baik untuk memperoleh makanan, memperoleh pakaian, dan semuanya. Dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.

b.     Akhlak
      Secara bahasa kata akhlak jamak dari khuluqin yang diartikan tabiat, kebiasaan, adab. Sedangkan secara istilah adalah sifat yang mantap di dalam diri yang membuat perbuatan, yang dilakukannya baik atau buruk, bagus atau jelek (Islamwiki, 2008). Oleh karenanya, apabila amal dan pikiran seseorang sholeh (baik) maka sholeh pula diri dan akhlaknya, dan sebaliknya apabila amal dan pikirannya rusak maka rusak pula dirinya dan akhlaknya.
Akhlak dapat dirumuskan sebagai suatu sifat atau sikap kepribadian yang melahirkan tingkah laku perbuatan manusia, dalam usaha membentuk kehidupan yang sempurna berdasarkan kepada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Allah. Dengan kata lain, akhlak ialah suatu sistem yang menilai perbuatan lahir dan batin manusia baik secara individu, kumpulan, dan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan baik secara individu, kehidupan masyarakat dalam interaksi hidup antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan hewan, dengan malaikat, dengan jin, dan juga dengan alam sekitar.
c.      Etika
Istilah etika berasal dari kata Latin: Ethic (us), dalam bahasa Inggris: Ethikos = a body of moral principles or values. Ethic = arti sebenarnya, ialah kebiasaan, habit, custom. Jadi dalam pengertian aslinya, apa yang disebutkan baik itu ialah yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat (dewasa itu). Lambat laun pengertian etika itu berubah, seperti pengertian sekarang. Etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai jahat (Burhanuddin, 2000: 3).
d.     Susila
Secara kebahasaan perkataan susila merupakan istilah yang berasal dari bahasa Sansekerta. Su berarti baik atau bagus, sedangkan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Jadi, susila berarti dasar, prinsip, peraturan atau norma hidup yang baik atau bagus. Selain itu, istilah susila pun mengandung pengertian peraturan hidup yang lebih baik. Istilah susila dapat pula berarti sopan, beradab, dan baik budi bahasanya. Dengan demikian, kesusilaan dengan penambahan awalan ke dan akhiran an sama artinya dengan kesopanan.

5.     Metode Penelitian
a.     Metode Penelitian
      Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif, metode deskriptif kualitatif merupakan metode yang digunakan dalam penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau tulisan tentang orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Tujuan dari metode ini adalah untuk membuat deskripsi dan gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
      Seperti dalam penelitian ini, yaitu untuk mendapatkan deskripsi tentang moralitas dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM, untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti mengumpulkan data-data yang diperoleh setelah membaca keseluruhan novel “Umang” karya Ferry Irawan AM ini, kemudian dari data-data yang telah terkumpul, peneliti mengambil (mereduksi) data yang lebih sesuai dengan topik (tujuan) tentang penelitian yang diambil peneliti.
b.     Sumber Data
      Sumber data dalam penelitian ini berupa novel “Umang” karya Ferry Irawan yang diterbitkan oleh Diva Press (356 Halaman).
c.      Jenis Data
Data dalam penelitian ini berupa:
·     Pernyataan-pernyataan tokoh yang langsung maupun tidak langsung dalam novel “Umang” Karya Ferry Irawan AM..
·     Pelukisan tentang moralitas, yang terdiri dari moral baik dan moral buruk yang terdapat dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM.
d.     Instrumen
     Pada dasarnya instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan kemampuan menganalisis novel, yaitu dengan cara mendeskripsikan tentang moralitas dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan.

6.     Hasil Analisis Moralitas dalam Novel Umang Karya Ferry Irawan AM
      Di bawah ini akan diuraikan tentang moralitas dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM, yang tercermin dalam tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM, yaitu sebagai berikut.

1.     Moral Baik
      Moral yang baik adalah sikap atau tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan seseorang. Adapun moral baik dalam novel ”Umang” karya Ferry Irawan AM, yaitu seperti penyayang, tabah, tegar, suka menolong, berjiwa besar (pemimpin), mandiri, semangat juang tinggi (bekerja keras), taqwa (taat beribadah) dan tawakal.
a.      Penyayang
      Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sifat penyayang seseorang tercermin dari beberapa tokoh yang terdapat dalam novel tersebut, seperti tokoh Burhan, Budi, Abah Anom, Syekh Ibrahim, dan lain-lain. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap penyayang dari setiap tokoh.
·       Pak Burhan
…”Akulah yang paling akhir keluar. Ketika hendak keluar menerobos kobaran api melaui pintu dapur, langkahku terhenti karena mendengar tangisan bayi. Aku membalikkan badan, segera masuk ke kamar, menghampiri tangisan bayi itu. Aku iba, amat kasihan pada bayi itu.
“Bayi itu menjerit sejadi-jadinya karena kepanasan. Api yang membesar telah membakar seluruh ruangan. Asap hitam mengaburkan pandanganku. Sambil menggendong bayi itu, kulanjutkan mencari jalan keluar, lalu melompati kobaran api yang juga menjalar ke dapur”… (Umang: 39)

·       Mayang
…”Mas Firman, aku ikut sedih karena penderitaan Mas Firman. Aku mohon Mas Firman bersabar dengan segala cobaan itu.” Mayang coba memberi jalan”… (Umang: 48).

…”Pak Harun, jangan pukul Mas Firman! Dia tidak bersalah, pak! Dia tidak bersalah…!” jerit Mayang yang tidak tahan melihat kondisiku”… (Umang: 55).

·       Pak Budi
…”Perbincangan mereka berlanjut hingga larut malam. Akhirnya, sebuah keputusan diambil. Pak Budiman yang sudah dua puluh tahun menikah dengan Maimunah, namun belum dikaruniai anak, berencana menjadikan anak temuan itu sebagai anak angkat”… (Umang: 68).
·       Bu Maimunah
…”Kebocoran pipanya belum bisa ditanggulangi. Jadi saya disuruh menjemput lagi, “ jawab Pak Iwan.
“Acara ini kan jarang terjadi. Masak tidak bisa hadir, walau hanya untuk beberapa saat saja? Seperti tidak ada waktu lain?” lanjut ibuku. Seharusnya, penjelasan itu ditujukan kepada bapakku.
“Meskipun Firman bukanlah anak kandung sendiri, paling tidak ada sedikit penghargaan dengan menyempatkan hadir, meskipun hanya sebentar…” keluh ibuku, langsung terdiam. Tampak rona penyesalan diwajahnya”…(Umang: 88).

b.     Kesabaran (Tegar, Tabah)
Nilai kesabaran dapat dilihat pada sikap sabar yang tercermin dalam tokoh Firman sebagai tokoh utama dalam cerita yang selalu sabar, tegar, dan tabah dalam mengahadapi semua cobaan yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, misalanya seperti dalam perjalanan hidupnya yang selalu terlunta-lunta, tetapi ia selalu berusaha mengahadapinya dengan sabar meskipun terkadang ia juga pernah merasa capek dengan semua yang terjadi padanya, namun ia masih tetap tegar dan tabah, yang akhirnya dari sikapnya itu ia pada akhirnya mendapatkan hidup lebih baik. Sebagaimana uraian berikut mengenai sifat kesabaran yang terdapat pada tokoh Firman dalam novel “Umang”.
…”Kembali, kurenungi nasibku yang sebatang kara. Tak ada lagi yang mempedulikan keadaanku. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Bila kebetulan lewat perkuburan dan melihatku terpaku mematung di samping makam bapakku, maka masih kudengar mereka membicarakanku.
“kasihan anak itu. Tampaknya, dia sudah gila karena bapaknya meninggal.”
“hush! Jangan diganggu! Orang gendeng itu, meskipun cilik, tenaganya kayak setan. Apa kamu berani?”
Aku hanya diam. Mendesah. Ketika mendengar ocehan mereka, apa yang bisa kuperbuat? Memang, nasibku sungguh malang setelah ditinggal mati orang tua. Aku menunduk sedih, memandang lekat gundukan tanah di depanku”… (Umang: 46).


c.      Tawakal
      Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sifat tawakal seseorang tercermin dalam tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap tawakal dari tokoh Firman.
…”Aku hanya sanggup membatin, “Allah Maha Berkehendak dengan kehendak-Nya. Aku yakin, pasti ada hikmah di balik kehendak-Nya itu. Jika memang ini takdir dan kehendak-Nya, biarlah Dia berkehendak sesuka-Nya”… (Umang: 60).

…”Ya Tuhan, inilah akhir pertemuanku denga kedua orang tua angkatku. Satu pergi ke pangkuan-Mu, yang satu pergi ke pangkuan keluarganya. Dan, aku akan kembali ke pangkuan alam”… (Umang: 95).

d.     Berjiwa Besar (Pemimpin)
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sifat atau jiwa kepemimpinan seseorang tercermin dalam tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap atau jiwa kepemimpinan dari tokoh Firman.
…”Selamat pagi, Bu Guru!” jawab kami, serentak.
“Semua siap! Beri salam pada Bu Guru!” kataku dengan suara keras dan tegas.
Selama di SDN Tamelat Ciptodadi, sudah tiga kali aku menjabat sebagai ketua kelas”… (Umang: 70).

…”Permisi, Bu. Ruangan kelas VI A sudah selesai dibersihkan,” kataku setelah sampai di depan pintu kantor, tak ubahnya upacara milier. Begitulah aturan untuk melatih kedisiplinan siswa, seperti kata kepala sekolah saat upacara beberapa bulan yang lalu.
“laporan diterima. Kembali ke tempat dan segera berbaris di depan kelas!” jawab Bu As dengan nada suara yang tegas.
“Siap laksanakan!” jawabku kemudian”… (Umang: 74).

e.      Mandiri
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sikap mandiri seseorang tercermin pada tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap mandiri dari tokoh Firman.
…”Mmm…, Wayan, boleh tidak kalau aku ikut kamu nakok para?”
“Ah, yang benar saja kau, Fir? Apa aku tidak salah dengar? Serius? Apa kata orang nanti, masak anak direktur nakok para? Kan lucu?
“Tidak, Wayan. Aku serius. Aku ingin sekali belajar mandiri,” ungkapku dengan nada serius”… (Umang: 76).

…”Akhirnya, minggu tenang pun usai. Aku melaluinya dengan sebaik mungkin. Tidak ada waktu mubazir yang terbuang percuma. Malam, aku gunakan untuk belajar. Pagi sampai siang, aku gunakan unuk nakok para bersama Wayan.
Orang tua Wayan memberikan pengertian kepada kami berdua, “Selama kalian libur, silakan kalian nakok para yang biasa Bapak sadap. Hasilnya nanti Bapak jual ke Lubuklinggau. Uangnya nanti Bapak berikan pada kalian untuk keperluan sekolah, ya?” kata Pak Wisnu ayah Wayan, pada hari pertama aku dan Wayan berangkat nakok para.
Alhamdulillah, dari hasil kami berdua selama satu minggu, aku mendapatkan bagian yang lumayan banyak. Aku senang sekali menerimanya. Aku bercita-cita ingin selalu mandiri dalam menempuh kehidupanku di masa yang akan dating”…(Umang: 78).

f.      Suka Menolong
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sikap suka menolong seseorang tercermin pada tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap suka menolong dari tokoh Firman, yaitu sebagai berikut.
…”aku mengingat-ingat apakah aku membawa makanan. Namun, mengapa nenek ini berbicara dengan bahasa Indonesia? Ah, masa bodoh! Ah, ya…! Aku ingat! Ada nasi bungkus pemberian ibu yang duduk di sebelahku saat masih di mobil Pak Sudan tadi. Nasi itu belum sempat kumakan. Tanpa bicara, aku membuka tas dan memberikan nasi tersebut untuk nenek tua yang terus melihat tajam ke arahku”…(Umang: 106).

g.     Taqwa (Taat Beribadah)
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang sifat taqwa (taat beribadah) dari seseorang tercermin dalam tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sifat taqwa (taat beribadah) dari tokoh Firman, sebagai berikut.
…”Aku keluar menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan asrama. Kuniatkan malam itu juga sebagai pembuka satu tahap kehidupanku. Aku ingin menghafal Al-Qu’an dengan sungguh-sungguh. Aku mandi besar seperti mandi jinabah, seolah hendak mengerjakan sesuatu yang besar.
Al-Qur’an itu suci, kata Abah. Mak, aku ingin diriku dan hatiku pun suci, seperti Nabi Muhammad SAW. Sebelum naik ke hadirat Allah, sebelum menerima perintah menjalankan shalat, ketika dada beliau dibelah dan disucikan oleh malaikat, kemudian aku berwudhu. Aku ingin selalu berusaha menjaga shalat Tahajjudku. Itulah tekadku selanjutnya”…(Umang: 133).

…”Menjelang tidur, aku menunaikan shalat isya, disambung shalat sunnah Muthlaq dan ktutup dengan witir satu rakaat. Biasanya, aku bangun pada sepertiga malam untuk shalt Tahajjud. Namun, karena terlambat tidur dan khawatir terlambat bangun, maka aku biasa pula mengisinya dengan shalat sunnah Muthlaq”…(Umang: 196).



h.     Semangat Juang tinggi (Bekerja Keras)
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM nilai-nilai yang menunjukkan tentang seseorang yang bekerja keras (memiliki semangat juang tinggi) tercermin dalam tokoh Firman. Adapun cuplikan (uraian) dalam novel yang menunjukkan sikap atau jiwa seseorang yang memiliki semangat juang tinggi dari tokoh Firman, yaitu sebagai berikut.

…”Setelah menunaikan shalat sunnah enam rakaat ku buka Al-Qur’an. Hatiku bergetar karena belum berpengalaman menghafalnya. Kata-kata kawanku yang lebih dahulu melakukannya, tidak ada teori khusus untuk menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Itu terserah masing-masing. Namun yang penting, setiap hari harus ada hafalan yang disetorkan. Tidak hanya hafalan baru, tapi juga mengulang hafalan uang lama atau muraja’ah”…(Umang: 134).

…”Sampai di asrama, aku bergegas ke kamar mandi. Aku belum keramas lagi. Setelah itu, aku akan kembali menghafal Al-Qur’an. Mungkin, aku belum bersih benar, sehingga otakku menjadi tumpul. Ternyata, kecerdasan bukanlah modal utama untuk menhafal ayat-ayat suci-Nya. Begitulah aku menarik kesimpulan tentang yang kualami tadi”…(Umang: 136).
…”Aku bertekad mulai ubuh besok akan berusaha keras lagi untuk menghafal Al-Qur’an. Pokoknya, aku harus berhasl. Titik, tidak pakai koma!”…(Umang: 138).

2.     Moral Buruk
Moral buruk merupakan segala sikap atau tingkah laku tercela yang dapat merusak iman seseorang serta menjatuhkan martabat manusia. Adapun moral buruk yang tercermin dalam novel ”Umang” karya Ferry Irawan AM, yaitu buruk sangka, dan pemarah.
a.      Buruk Sangka
Nilai kejelekan yang tercermin dari tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel ”Umang” karya Ferry Irawan AM yang pertama yaitu buruk sangka, seperti pada tokoh Bu Halimah dan Pak Harun. Adapun cuplikan dalam novel yang menunjukan sifat tersebut, yaitu sebagai berikut.
·       Bu Halimah
…”Sambil berbicara, Bu Halimah perlahan menoleh ke arahku. Kecurigaan seorang ibu terpancar penuh selidik pada tatapan matanya”… (Umang: 51).

·       Pak Harun
…”Nah, inilah anaknya, Pak Salim! Tadi, aku sendiri melihat dia menggendong anakmu di ujung dusun kita ini. Di tempat gelap lagi! Coba selidiki apa yang telah diperbuat anak itu!” suara Pak Harun terdengar meninggi”… (Umang: 52).

b.     Pemarah
Dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM moral buruk tentang sikap pemarah tercermin dari berberapa tokoh yang terdapat dalam novel tersebut, seperti Pak Salim, dan Pak Harun. Adapun cuplikan dalam novel yang menunjukkan sikap tersebut yang terdapat dalam beberapa tokoh yang ada dalam novel, yaitu sebagai berikut.
·       Pak Salim
…”Pak Salim menghampiri mayang yang masih berada dalam gendongan Bu Halimah. Lelaki itu tampak geram kepada Mayang dan membentaknya. “Mayang! Dari mana saja kau, hah?! Bikin orang tua cemas saja! Sekarang malah membuat bapakmu malu!”… (Umang: 53).

…”Pak Salim, bukannya tenang dan emosinya mereda, justru melampiaskan amarahnya kepadaku. Dia menghampiriku yang masih diringkus Pak Harun.
Plak…! Plak…!
Tamparan keras tangan Pak Salim dua kali mengenai pipi kanan dan kiriku. Pak Salim gelap mata”… (Umang: 53).

…”Pak Salim kembali meluapkan amarahnya. Dia menghampiriku lagi setelah diriku jatuh terjerembab akibat dorongan tangan kiri Pak Harun yang mencekikku. Pak Salim mencengkeram baju lusuhku dan membentak, “Jawab, hai anak sial! Apa yang telah kau lakukan pada Mayang, anakku, heh? Jawab!!!”… (Umang: 55).

…”Hai, anak haram! Pergilah kau dari desa ini! Lama-kelamaan, desa ini akan murka kepadamu. Kau telah telah mengajari yang tidak senonoh pada anakku mala mini. Besok akan kau apakan lagi anakku? Sekarang juga kau harus pergi”! bentak Pak Salim, mengangkat tangan kanannya seraya memberikan isyarat dengan telunjuknya”… (Umang: 56)

·       Pak Harun
…”Anak haram! Berani-beraninya engkau membawa anak Pak Salim hingga malam-malam begini! Jangan karena gilamu itu, lantas engkau ingin membuat kami jadi gila pula!” maki Pak Harun, gusar, geram. Satu kepalan tinju tangan kanannya yang keras mengenai perutku, telak”… (Umang: 54).

…”Apa?! Kau tak bersalah? Dasar anak hadah! Pendusta pula! Kalau tidak bersalah, apa yang telah engkau perbuat di temapt gelap di ujung jalan tadi, hah?!”… (Umang: 54).





7.     Penutup
  • Simpulan
Dari hasil analisis tentang moralitas (moral) yang tercermin dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM tersebut, maka peneliti mengambil simpulan bahwa dalam novel “Umang” karya Ferry Irawan AM ini, moralitas yang yang digambarkan oleh pengarang terdiri dari dua unsur moral, yakni moral baik dan moral buruk yang terdapat pada setiap tokoh yang terdapat dalam novel. Moral baik meliputi  tabah, tegar, suka menolong, berjiwa besar (pemimpin), semangat juang tinggi (bekerja keras), taqwa (taat beribadah), mandiri, penyayang, dan tawakal, yang digambarkan dalam beberapa tokoh dalam novel, tetapi lebih khusus pada tokoh Firman, karena tokoh Firman merupakan tokoh utama dalam novel. Sedangkan moral buruk yang terdapat dalam novel terdiri dari buruk sangka dan pemarah, yang digambarkan pengarang pada beberapa tokoh yang terdapat dalam novel.
  • Saran
§  Untuk pembaca
Semoga penelitian ini dapat bermanfaat, sebagai upaya untuk mengetahui cara menganalisis unsur moralitas (moral) dalam sebuah novel. 
§  Untuk lembaga
Semoga penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian yang mengambil topik sesuai dengan analisis dalam penelitian ini.

8.     Daftar Pustaka
Semi, Atar. 1982. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Irawan AM, Ferry. 2009. Umang. Jogjakarta: Diva Press.


9.    Sinopsis Novel Umang Karya Ferry Irawan AM
“Sebuah novel yang berbicara mengenai tren masa kini. Bauran dari keindahan seni ingar-bingar budaya pop & semangat religius dengan kecenderungan transendental. Dan ditinjau dari pengarang inilah satu lagi ‘novel pesantren’ yang ikut memperpanjang daftar karya pesantren. Selamat.”KH. A. Mustofa Bisri budayawan pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang. “Novel seperti ini termasuk langka; berkisah tentang metafisika. Saat Firman sang tokoh utama tertidur di makam Sunan Ampel dia bermimpi bertemu sang sunan. Setelah itu dia mengalami keajaiban. Novel ini juga berkisah tentang proses meraih keikhlasan. Karena novel ini layak dibaca.”KH. Shalahuddin Wahid atau Gus Sholah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. “Belajar tentang ‘sedekah’ & kebaikan dari sebuah novel seperti ini adalah satu cara yang patut saya tiru. Sungguh menarik seru & menginspirasi banyak orang.” Ustadz Yusuf Mansyur pimpinan Pondok Pesantren Daarul Qur’an Cipondok Tangerang Banten. Pembaca novel ini memotivasi siapa pun Anda untuk bangkit dari keterpurukan apa pun! Membaca Anda akan memperoleh inspirasi hidup pantang menyerah guna membangkitkan kedahsyatan diri termasuk dalam semesta tasawwuf spiritualitas Islam. Insya Allah inilah bacaan bermanfaat & berhikmah buat Anda.. Umang.







Kini saatnya sadar bahwa idup kamu masih panjang. Sejarah masih harus kamu isi dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Terlalu merenungi patah hatimu akan membuat kamu sulit untuk menjalani kehidupan kamu dengan benar. Patah hati memang menyakitkan, tetapi kesadaran untuk menghapus kenangan buruk itu akan membantu kamu untuk terjaga dan menjalani hidup dengan penuh percaya diri.

Sekarang ikutilah tujuh langkah jitu untuk menyembuhkan patah hatimu. Masing-masing langkah, cukup kamu jalani selama satu hari, sehingga pada hari ke tujuh, lembaran hidup baru kamu sudah terbentang luas.

  • Hari ke-1: Jangan Saling Menyalahkan!
Putusnya jalinan cinta kadang-kadang menimbulkan perasaan yang ekstrem, dan kadang-kadang sangat ekstrem. terutama sikap saling menyalahkan: "semua ini salahmu!", "Aku sama sekali tidak bersalah!" atau "Gara-gara cewek centil itu, dia berpaling dariku!!". Sikap saling menyalahkan (baik menyalahkan orang lain maupun diri sendiri) hanya akan menumpuk beban yang kian berat pada luka cintamu. Sadarilah bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, tidak ada hubungan yang sempurna. Dan tidak ada kekasih yang sempurna! setiap orang bisa membuat kesalahan. Tidak terkecuali dia. Tidak terkecuali kamu.

Kadang-kadang sebuah cerita cinta tidak langsung terputus. seringkali sebuah hubungan putus-balik, putus-nyambung, begitu terus selama beberapa kali sampai akhirnya benar-benar putus. Jalinan cinta yang langsung putus seringkali diakibatkan oleh 'Perselingkuhan' salah satu pasangan. Karena si pacar terlampau pecemburu dan emosional, hubungan langsung putus tanpa pernah nyambung lagi. Biasanya pula, mereka kemudian tidak saling tegur sapa. Rasa sakit, betapapun sakitnya, akan mudah sirna. Meskipun sekali muncul dendam.

Beda dengan jalinan cinta yang putus-nyambung. Rasa sakit yang dilahirkan oleh patah hati semacam ini akan berlangsung lama. Ada kalanya kamu membayangkan: betapa indahnya jika kamu dapat memutar balik waktu, untuk kembali memperbaiki kesalahan dan menjalin hubungan itu sekali lagi. Ada kalanya kamu berimajinasi bahwa dia masih mencintai kamu di seberang sana, bahwa dia masih merindukanmu atau bahwa dia juga merasa menyesal seperti kamu.

Tidak. Kamu harus sadar, semua sudah berakhir. Hubungan yang putus nyambung beerapa kali menunjukkan bahwa diantara kalian tidak memiliki kecocokan. Memang, sebuah hubungan cinta tidak membutuhkan 'dua persamaan' tetapi menyatuhkan dua perbedaan. Jika kekasihmu adalah orang yang pencemburu, kamu harus menjadi orang yang sabar. Jika dia orangnya kaku, kamu harus cair. Jika dia terlalu banyak menuntut, kamu harus mampu memahami. Pendek kata, jika dia api kamu harus jadi air. Coba bayangkan saja jika sebuah jalinan cina dihuni oleh dua orang yang bertipe sama: sama-sama keras kepala, sama-sama pencemburu, sama-sama pengekang, sama-sama tidak pedulian, sama-sama kasar, sama-sama pendiam, sama-sama tak tahu diri, sama-sama terlalu perhatian, sama-sama pintar, sama-sama bodoh, sama-sama kurang percaya diri atau sama-sama gila!

Jika kalian mempunyai banyak kesamaan, sudah semestinya kalian berhati-hati. Karena kesamaan yang terlalu berlebihan akan sulit untuk menuju satu titik temu. Dua ego sulit untuk disatukan. Jika kalian putus, kamu harus sadari ini bukan kesalahan dia semata. bukan juga kesalahan kamu. ini semua kesalahan kalian berdua karena tidak mampu menjaga kebun cinta yang telah kalian semai selama berbulan-bulan. ini salah kalian berdua karena terlampau tidak peduli dengan layunya kembang-kembang cinta kalian. Jika kamu terlalu menyalahkan dia, hasilnya sudah jelas: dendam kesumat yang berlangsung lama! Dia yang pernah kamu cintai setengah mati menjadi Monster penjagal yang paling kamu takuti atau bahkan paling kamu benci. Dia yang pernah mengisi relung hatimu, dia yang pernah mengecup pipimu, dia yang pernah menarik hidungmu sampai kamu bersin-bersin misalnya, dan dia yang pernah mengisi mimpi-mimpimu berubah menjadi raksasa menakutkan yang hendak kamu bunuh. Ketahuilah, dia memang salah tetapi tidak sebesar itu. Dia memang salah karena telah berselingkuh. tetapi Cowok mana yang tidak tergoda jika didekati oleh cewek yang lebih cantik dari kamu?, cewek mana yang gak tersungkur jika hatinya telah dipikat oleh cowok paling keren di sekolah kamu? gak perlu terlalu menyalahkan dia. Lebih baik dia berselingkuh sekarang dan ketahuan, ketimbang berselingkuh nanti di saat hubungan kalian mulai serius. Putus Cinta is okay!!

Kamu juga tidak boleh menyalahkan diri kamu terlalu ekstrem. kamu memang salah karena meninggalkan dia. Kamu salah karena tidak begitu peduli padanya. dan rasa salah ini melahirkan kesadaran: bahwa kamu ternyata masih mencintainya. Namun, rasa bersalah yang terlampau berlebihan akan membuat kamu bersedih sepanjang hari. Hari-harimu akan kelabu. Hasilnya: Kamu menjadi remaja pendiam dan penyendiri. Nah lo! jangan menyalahkan diri kamu melulu. Kamu bukan manusia sempurna yang bisa menjadi segalanya bagi dia. Kamu telah berusaha untuk memahami dia, berusaha mengenal dia dengan baik, berusaha meladeni dia, berusaha mengalah, berusaha mengerti, berusaha melipur hatinya ketika dia sedang sedih, berusaha menjauh dari cowok atau cewek lain selain dia. Tetapi kenapa dia nggak mau peduli dengan semua itu? kenapa dia justru memutuskan cinta di saat kamu semakin mencintainya?. Nah, bukan kamu to yang salah?!

Sadarlah, ini adalah kesalahan kalian berdua. terlalu menaruh banyak harapan pada cinta sehingga saling menuntut. Don't hope oo much when you cannot give more! Jangan telampau berharap jika kamu nggak bisa memberi lebih! jangan terlampau banyak mengatur jika kamu tidak mau diatur. Jangan terlampau mengekang jika kamu sendiri menginginkan kebebasan. Jangan terlampau cemburu, sekalipun atas nama cinta, jika kamu sendiri masih ingin bergaul dengan cowok atau cewek lain, yang harus kamu ingat adalah cinta itu sudah bubar, cinta itu sudah tamat karena kalian gak mau meneruskannya. Cinta itu sudah patah karena kalian nggak mau merawat tali kasihnya.

Memang kesadaran untuk tidak saling menyalahkan agak sulit dilakukan pada hubungan cinta yang sudah berlangsung lama. Terutama jika cinta pertama bagi kalian berdua. Tetapi ketahuilah, cinta pertama hanyalah satu langkah menuju cinta-cinta yang lain karena pada cinta pertama, kalian belum menjajaki apa to Cinta itu. Kalian baru saja melangkahkan ke dunia baru, ke dunia cinta yang belum pernah kamu masuki sebelumnya. Toh, jika kamu membuat kesalahan yang mengakibatkan hancurnya jalinan kasih itu, kamu masih punya waktu untuk memperbaikinya pada hubungan-hubungan cinta berikutnya.

  • Hari ke-2: Bunuhlah Rasa Sepih Itu
Setelah putus cinta, hari-hari yang kamu jalani terasa sepih. Yang biasanya kamu jalani bersama sang kekasih, sekarang kamu harus dijalani sendiri. Biasanya, kamu pergi ke toko buku bersama dia, biasanya kamu berangkat ke sekolah bersama dia, biasanya kamu makan siang ditemani dia, biasanya kamu ngobrol sehabis pulang sekolah bersama dia, biasanya kamu menonton bioskop bersama dia, biasanya kamu dibelikan baju sama dia, biasanya kamu telpon-telponan sama dia, biasanya kamu smsan sama dia, dan biasanya temen-temen kamu menanyakan kabar tentang dia.

Sekarang semua berakhir, kamu harus menjalaninya semua sendiri! gak ada telpon dari dia, gak ada jemputan, gak ada kawan makan, gak ada kawan ngobrol, semuanya terasa sepi. dan pertanyaan teman-temanmu tentang hubungan kalian justru menambah rasa sakit yang kamu derita. Awalnya, ini sangat berat sekali. Tidak mudah, memang.

Bayangan bahwa kamu gak bakalan mampu menjalani semuanya terasa menggelayuti hatimu. ini akan mempengaruhi pola makan kamu, pola tidur kamu, pola belajar kamu, dan pola bicara kamu dengan oran lain, terutama pada orang tua kamu dan teman-teman kamu.

Sekarang waktunya membunuh rasa sepi, waktunya untuk mmenyadari bahwa sepi bukanlah musuh utama, melainkan teman yang harus diakrabi. Sepi adalah teman yang harus diajak untuk menghabiskan hari-harimu dengan ceria. Lalu bagaimana cara jitu membunuh rasa sepih karena cinta ?

Pertama, berbagilah cerita patah hatimu ini pada orang lain. Kebanyakan cewek akan memiih ibunya untuk menjadi tong sampah. Mereka mengeluarkan semua sumpah serapah dan sakit hati kepada ibu mereka untuk mendapatkan nasihat yang bijak. Nasihat yang biasanya memang terdengar Klise, seperti: "Sudahlah, kamu masih punya waktu yang panjang untuk mendapatkan cinta yang lain". Nasihat ibu memang benar, kamu masih punya kesempatan untuk menemukan cinta sejati. Cinta kedua bukan berarti tidak sejati. Banyak orang mendapatkan kesuksesan setelah mencoba kedua atau ketiga kalinya!.

Kamu juga bisa memilih teman akrabmu satu saja untuk kamu jadikan teman curhat. Ceritakan pada sahabatmu ini tentang segala perasaanmu ini termasuk rasa sakit dan dendam kesumat yang kamu rasakan. Berbagi rasa adalah salah satu cara efektif untuk meringankan beban kamu. setelah perasaanmu plonk, kamu harus bisa segera tersadar untuk meneruskan perjalanan hidupmu.

Langkah kedua, bunuhlah rasa sepi dengan melibatkan dirimu dalam berbagai macam kegiatan sekolah/ kampus. ikutilah beberapa les tambahan. Habiskan waktumu untuk kegiatan sekolah/ kampus sehingga hampir tidak ada waktu untuk mengingat mantan kekasihmu.

  • Hari Ke-3: Bangun Kembali Harapanmu!
Putus cinta seringkali menciptakan rasa putus asa. Pupus sudah segala harapan yang pernah kamu tanam dalam hubungan cinta kalian berdua. Ketika semuanya telah hancur, harapanmu ikut luruh bersamanya. Kini saatnya kamu membangun kembali harapan itu. pandanglah hidupmu dari beragam perspektif yang berbeda. Jika selama ini kamu memandang dia sebagai satu-satunya kekasih idaman, satu-satunya hati yang mampu menghidupkan kembang-kembang hatimu, maka sadarilah dia telah pergi. dia telah mencerabut akar-akar cinta itu dari hatimu!, dia telah melupakanmu demi bentuk cinta yang lain.
Kamu telah melewati masa-masa yang indah bersamanya. kamu juga telah melewati masa-masa yang buruk bersamanya. Kini masa buruk itu masih berlangsung bersama lenyapnya kekasihmu itu. Mungkin saja saat ini kamu masih membayangkan mantan kekasihmu. Mungkin saja bayangannya masih terlintas di hatimu. Mungkin saja kamu disiksa perasaan untuk menelepon dia, untuk mengirim sms ke dia, untuk menulis surat ke dia , atau sekedar titip salam untuknya!, kerinduan untuk bersama dia masih kamu rasakan. tapi tunggu dulu, kamu harus memandang hidupmu dari perspektif yang lain. Dia telah meninggalkanmu!. Memang, kerinduan dapat memaksakanmu untuk melupakan kepahitan-kepahitan itu. tetapi, mantan kekasihmu itu terbukti gagal memberikan apa yang kamu inginkan. Dia telah gagal memberikan apa yang kamu butuhkan. Dia bukan siapa-siapa lagi.

Duduklah, renungkanlah. Pandanglah hidupmu dari perspektif yang baru. Kamu tidak harus menjadi "korban" dari bayang-bayang manan kekasihmu itu. Justru, kini kamu harus membunuh bayang-bayang itu, bayang-bayang yang pernah menyakiti hati kamu. Lalu, bangunlah harapan baru ke depan. Kisah lama telah tertutup, mimpi dari hari kemarin telah pupus. tetapi bukan berarti kamu mengabaikan petualangan hari esok yang masih terbentang luas di hadapanmu.

Melihat ke belakang memang perlu, sejarah memang perlu ditengok, tetapi tidak untuk dihayati. selayaknya rel kereta api yang telah kamu lewati. keretamu tidak boleh mundur. hidup harus berjalan sebagaimana mestinya. Hentikan keinginan untuk terus mengingat dia. Sekrang kini saatnya kamu sadar bahwa kamu sedang berdiri di pintu gerbang harapan. kamu siap melangkah kaki untuk menuju hidup lebih baik tanpa si dia. Berhentilah menghukum dirimu sendiri dengan menimbun hatimu bersama-sama rasa sedih, marah, dendam, atau bahka depresi.

Lepaskan beban itu, satu episode film tentang kehidupanmu telah berlalu. Kini saatnya lampu harus dinyalahkan dan kamu keluar rumah. Udara di luar terasa menyegarkan. Layaknya menonton film, kamu tidak perlu memikirkan film itu terlalu serius, film itu bisa saja bagus, bisa saja buruk, dan kamu telah menjalani episode hidup yang menyedihkan. Tinggalkan. Bangun kembali harapan untuk membuat episode hidup yang lebih baik.
Definisi Baru Tentang Cinta

Apakah cinta itu? pasti itu pertanyaan dalam benakmu setelah kamu mengalami patah hati. Cinta yang awalnya semanis cokelat, kini terasa sepahit empedu. Cinta yang dulu terlihat indah, kini telah padam dan pekat. Lalu, Untuk apa kamu mendefinisikan kembali cinta? Agar kamu tidak salah lagi menentukan arah jalan. 

Kini saatnya kamu memijkkan kaki di atas fondasi cinta yang benar. mendefinisikan ulang cinta akan membantu kamu mencari pegangan yang kuat untuk hubungan cinta yang lain.

Cinta adalah salah satu emosi yang paling dirayakan oleh manusia di seluruh jagat raya. Namun, cinta abadi jarang sekali ditemukan. Akibatnya muncul perasaan kecewa, dan buruknya lagi, kepahitan hidup dan depresi.

Cinta adalah proses emosi yang membutuhkan waktu dan perhatian. Ia pada dasarnya merupakan gagasan dan pilihan dalam kehidupan sehari-hari, cinta tidak selalu berjalan mulus atau romantis. Sesungguhnya, cara kamu mencintai akan menentukan cara hidup kamu.

Cinta muncul dari dalam diri tetapi terutama didasarkan pada sikap saling merawat. Jika kamu mampu memahami cinta dengan lebih baik, cinta akan membimbing kamu memasuki masa depan yang lebih baik pula. Cara kamu mendefinisikan cinta akan membimbing kamu menemukan  sebentuk cinta lain yang lebih indah. Dan tempat tinggal cinta adalah dalam hatimu. Bersihkanlah hatimu dari bayang-bayang mantan kekasihmu agar orang-orang baru dapat mengisi ruang-ruang hatimu, dan siapa tahu ada yang betah tinggal di sana.

Jangan coba-coba menipu hati kamu. Kamu sadar kamu masih mencintai dia, tetapi kamu sudah tidak lagi cocok denganya. Sadarilah, hatimu membutuhkan cowo atau cewe yang lain. Sekarang, giliran kamu mencari tahu apa yang sesungguhnya dapat memuaskan hatimu, apa sesungguhnya yang dapat menentramkan hatimu, apa yang sesungguhnya mampu mengisi hatimu dengan kebahagiaan?

Apa pentingnya cinta bagi kehidupan kamu. Seorang pujangga pernah menulis, " Cinta adalah keadaan yang mencemburukan yang tidak mengenal dengki atau kejahatan, hanya empati dan kerinduan untuk menjadi lebih besar ketimbang dirinya."

Cinta tidak mengajarkan kamu untuk membenci atau bertindak jahat kepada mantan kekasihmu. Karena cinta tidak mengenal dendam. Cinta justru akan memberikan rasa empati dan kerinduan agar si dia dapat menjalani hidup yang lebih baik. Jangan takut untuk merajut kembali makna cinta karena jika kamu takut kepada cinta, berarti kamu takut kepada kehidupan. Nah, Sadarilah. Carilah apa yang kamu butuhkan dalam cinta!

  • Hari Ke-5: Ayo Lahir Kembali!
Lahir Kembali? Tampaknya, ini seperti ajakan klise para orang tua jaman dulu. kelahiran kembali atau proses metamorfosis diri untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Ya, kamu memang perlu untuk lahir kembali setelah berhasil melewati rasa sepi, membangun harapan baru, dan mendefinisi ulang cinta.
Kini saatnya kamu membuang khayalan tentang cinta-cinta masalalu. Bukankah yang dulu pernah kamu agungkan telah melahirkan rasa perih itu?, kini saatnya menendang khayalan dan imajinasi untuk kembali padanya. Dia tidak layak untuk mendapatkan kembali cintamu! sadarilah kamu sudah melewati masa-masa itu bersama mantanmu, dan melalui proses yang mungkin sangat menyakitkanmu, kini kamu berhadapan dengan kebebasan baru untuk memulai membangun emosi dengan orang lain atau berbagi cinta dengan dirimu sendiri atau orang lain dengan cara yang kamu inginkan.

Mencintai diri sendiri adalah dasar sebelum mencintai orang lain. putus cinta terkadang melahirkan rasa tidak percaya diri, perasaan utuk membenci kekurangan diri kita sendiri. Hentikan. Kamu memang tidak sempurna, tetapi kamu layak untuk mendapatkan cinta yang kamu inginkan. Kamu telah menjalani cinta dengan orang yang salah, dengan cara yang salah di masa silam.

Kini kamu tidak boleh mengulanginya lagi. segala perasaan yang berbaur dalam hatimu akan membentuk kepribadian baru: membentuk dirimu yang baru.

Proses kelahiran baru ini akan menumbuhkan sikap untuk memberi maaf. ya, maafkanlah mantan kekasihmu, bukan untuk kembali mencintainya tetapi untuk melupakan segala kenangan itu. Maafkanlah dia, karena bagaimanapun juga dia pernah mencintaimu dengan baik, dia pernah menghabiskan cukup banyak waktu bersamamu, dia pernah memperhatikan kamu di atas segalanya. Maka, memberi maaf akan melahirkan kelegaan baru.

Ingatlah!, dengan membiarkan dia pergi, kamu telah memberikan kebebasan baru pada dirimu sendiri untuk mencintai dan dicintai. Terkadang ini sulit dilakukan jika kamu masih mempunyai rasa benci dan dendam. perasaan benci dan dendam hanya akan menumpahkan akibat yang buruk pada dirimu sendiri. Semakin kamu menceritakan kebusukan-kebusukan mantan kekasihmu, semakin banyak orang meragukan omonganmu. mereka akan bertanya-tanya, " ah masak dia seburuk itu?"

Jika sudah demikian, justru kamu yang rugi, jangan banyak gembar-gembor. diam saja dan berillah maaf kepadanya. Ingatlah mantan kekasih telah memberikan pelajaran berharga buatmu. Dia telah mengajarkan bahwa cinta tidak selamanya bersatu, bahwa kalian telah salah menanam benih cinta dan tidak mampu merawatnya. pelajaran penting ini akan berguna bagi percintaanmu di masa yang akan datang.

Setelah kamu memberi maaf, kamu akan mendoakan agar dia dapat memperoleh pengganti kamu yang lebih baik. Doa ini akan tertuju pula pada kamu agar kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik. kamu harus keluar dari "sejarah" itu untuk membangun sejarah yang baru. Ayo, lahir kembali untuk menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri, setidaknya menyelamatkan dirimu dari kehancuran akibat putus cinta.

  • Hari Ke-6: Bersiap-siaplah Memasuki Dunia Baru
Setelah lahir kembali, kamu akan memasuki sebuah dunia baru. sebuah dunia yang harus kamu jalani dengan jiwa yang besar dan lapang dada. kamu bukan lagi gadis yang dulu, kamu bukan lagi cowo yang dulu. Kamu telah lahir dengan identitas diri yang baru, dengan bekal definisi cinta yang baru. lakukanlah persiapan-persiapan untuk menyongsong kehidupan baru.
Hari keenam ini harus kamu manfaatkan untuk menyembuhkan luka emosi kamu. Tujuan kamu adalah menyembuhkan luka akibat cinta dan membangun kembali dunia yang lebih cerah. Tempalah diri kamu untuk berani membuat pilihan-pilihan yang lebih baik: apakah kamu akan sendiri dulu untuk sementara waktu ataukah kamu mencari kekasih baru.

Sendiri terlalu lama memang akan menyakitkan. tetapi, jika kamu bisa menikmati kesendirianmu, mengapa tidak? kenapa harus buru-buru mencari pacar baru. Jangan-jangan mencari pacar baru hanya akan menjadi alat untuk "balas dendam", untuk membuat mantan pacarmu "cemburu", atau sekedar untuk "pamer" bahwa kamu masih "laku". Tetapi, memang mencari pengganti pacar yang lama akan memudahkan kamu untuk melupakannya.

Figur orang baru akan memenuhi segala waktumu, sehingga tidak ada lagi waktu untuk memikirkan mantan pacarmu. Sebagian dari kamu mungkin akan mencari "perlindungan" dari rasa sakit itu dengan menjalin hubungan cinta yang tak serius. Hubungan cinta lanjutan ini biasanya berlangsung sementara karena tidak didasarkan pada emosi dan komitmen, melainkan hanya untuk "membunuh sepi". Jangan lakukan itu. Jangan gegabah dengan sembarangan mencintai orang lain. Luka itu cukup untuk menyadarkan kamu bahwa kamu harus mendapatkan pilihan yang lebih baik, kamu harus mampu mencintai dengan cara yang bijak.

Waspadalah karena kamu masih dalam taraf penyembuhan. Hati kamu masih sakit sehingga membutuhkan waktu untuk sembuh. Orang baru yang datang secara tiba-tiba hanya akan menyembuhkan luka sementara tetapi tidak luka permanen. Kadang-kadang patah hati mengakibatkan luka yang panjang dan lama, dan ini tidak dapat disembuhkan dengan tergesa-gesa.

Bersabarlah. jangan keburu nafsu mencari pengganti. Pelajarilah diri kamu yang sesungguhnya dan tipe-tipe kekasih yang bagaimanakah yang kamu inginkan? pelajari kepribadianmu agar mendapatkan pasangan dengan kepribadian yang cocok denganmu. mengenal diri dengan lebih baik akan membantu kamu mendapatkan pengganti kekasihmu yang lebih baik pula.

  • Hari Ke-7: Bersyukurlah
 Wahai kalian yang sedang patah hati dan dalam proses penyembuhan, bersyukurlah karena kamu masih diberi waktu untuk melakukan revisi hidup. Kamu masih punya cukup waktu untuk merevisi kembali cintamu yang pernah gagal. Kamu harus tegak menghadapi segalanya. Berjiwa besar akan melahirkan perasaan syukur karena Tuhan telah mengirim mantan kekasihmu untuk menjadi "guru" tentang cinta yang gagal.

Petiklah hikmah dari peristiwa itu. patah hatimu akan menjadi awal yang bagus untuk membina hubungan baru yang lebih sehat.

Putus Cinta biasanya mengakibatkan dua perasaan yang bersebrangan: perasaan sedih atau lega. Jika kamu memang menginginkan perpisahan itu, maka kamu akan merasa sangat lega telah berhasil melepaskannya. Dan patah hati semacam ini akan mudah diobati. Namun, Jika patah hati itu melahirkan perasaan sedih yang berkepanjangan, maka proses penyembuhannya membutuhkan waktu pula.

Sadarilah bahwa Tuhan telah melahirkan kamu ke dunia ini untuk memberi cinta dan menerima cinta. Jika kamu gagal memberi cinta, itu bukan salahmu semata, karena mungkin cinta itu tidak cocok untukmu. Kamu masih punya cukup waktu untuk memberikam cinta atau menerima cinta yang lain.
Sadarilah bahwa kamu telah menerima banyak berkah dari Tuhan. Kamu telah diberi kesempatan untuk mengenal cinta yang tidak benar. Kamu diberi kesempatan untuk mengecap hikmah di balik kisah cintamu yang menyedihkan. Kini saatnya kamu memanjatkan doa untuk membekali diri pada kisah-kisah berikutnya.
Bersedialah untuk memberi cinta. Kelak pada hubunganmu yang berikutnya, kamu telah sadar bahwa kisah cinta hendaknya tidak menjadi perebutan kekuasaan tetapi lebih sebagai tempat untuk salng memasrahkan diri. Sikap untuk memakasakan kehendak hanya akan menghancurkan cinta itu. Sikap saling memasrahkan akan melahirkan rasa saling hormat dan menghargai keinginan masing-masing.
Sekarang, bukalah dirimu untuk membiarkan seseorang yang lain masuk, seseorang yang memiliki alasan yang kuat untuk kamu cintai, seseorang yang sungguh-sungguh mempercayai dan memahami kamu. Mencintai dan dicintai adalah sebuah proses perjalanan hidup, bukan tujuan hidup. Ingat perkataan Len Santos:
"Membiarkan dia pergi tidaklah mudah, tetapi bertahan sama sulitnya. Kekuatan tidak diukur dari seberapa kuat kamu bertahan, tetapi seberapa kuat saat kamu melepaskannya pergi."












PATAH HATI adalah kata paling menakutkan bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta, patah hati begitu mencekam sebagaimana gunung berapi yang meletuskuat. Demam cinta pertama memang menumbuhkan perasaan yang kuat terhadap sepasang kekasih. Ketika Cinta pertama kandas dan menyebabkan putusnya hubungan melahirkan rasa sakit yang sulit untuk disembuhkan.

Tetapi, benarkah patah hati adalah akhir dari segalanya. Hati merupakan ujung dari segala perjalanan hidup yang tengah kamu jalani. perpisahan memang menyakitkan, tetapi jika patah hati diibaratkan sebagai kecelakaan mobil, maka bagi siapa saja yang selamat dari kecelakaan itu berkali-kali akan menyadari bahwa 'Cinta' memang kadang menyakitkan tetapi patah hati sangat bisa disembuhkan.

Kadang-kadang peribahasa bahwa cinta saja tidak cukup terbukti benar. dibutuhkan kekuatan besar untuk melakukan pengorbanan terhadap cinta: dengan berpisah dari sag kekasih demi kebahagiaanya. Cinta memang tidak selamanya harus memiliki. Kadang cinta hanya menumbuhkan rasa memuja, tanpa pernah berujung dengan bersatunya dua insan ke dalam satu hubungan.

Mengapa Sebuah Jalinan bisa putus?, inilah beberapa alasan yang seringkali membuat sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah:

  • Komitmen Yang Tidak Jelas
Komitmen sungguh Penting daam sebuah hubungan cinta. ketika cinta berjalan begitu saja, tanpa melahirkan sebuah komitmen untuk menjaga cinta itu tetap hidup, maka hubungan itu akan mudah berakhir. jika kalian tidak memiliki komitmen terhadap Cinta yang kalian bentuk, ketika cinta itu bubar, tidak ada pihak yang dipersalahkan, meskipun cinta memang tidak membutuhkan tudingan siapa yang salah, namun cinta membutuhkan kendali dan kalian berdualah yang memegang setir itu, dan membawa perjalanan Cinta kemana kalian menyukainya.
 Sekalipun, ada beberapa hubungan cinta yang dapat berjalan tanpa komitmenyang jelas. Semua berjalan apa adanya, tanpa ada ucapan "I Love You" atau semacamnya. Semuanya mengalir dan tidak sedikit orang menjalaninya dengan senang. Tetapi, ketahuilah cinta sejenis ini rapuh karena bangunan hubungan tidak diciptakan atas komitmen bersama.
  • Terlampau Egois
Cinta bisa berakhir menyakitkan ketika salah satu pasangan atau dua-duanya terlampau egois dalam menjalankan arah cinta. Cinta adalah menyamakan dua persepsi yang berbeda, merukunkan dua perbedaan, merangkul segala keinginan dan kebutuhan. ketika kamu terlampau egois, memaksakan kehendak pada kekasihmu, bangunan cnta itu dapat roboh karena kekasihmu merasa terbelenggu dan terpasung oleh kehendakmu.
Cinta yang terlampau egois melahirkan sikap anarkis; Ego untuk memenuhi segala kebutuhanmu tanpa memperdulikan kebutuhan kekasihmu. Jika ini yang terjadi, maka pertengkaran (baik diekspresikan secara lahiriah maupun perselisihan batin) akan muncul dan dapat merusak jalinan kasih.
  • Yang Satu Mencintai Yang Satu Tidak
Inilah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta memang kadang dapat dipakasakan karena rasa iba atau belas kasihan. Ada pula situasi yang membuat kamu tidak dapat menolak cintanya. Kamu tidak mencintainya, tetapi kamu memaksakan diri untuk mencintainya. Atau, kamu sudah belajar untuk mencintainya, tetapi kamu gagal.
Saran saya: Jangan mencintai seseorang karena belas kasihan. Mungkin kekasihmu baik, mungkin dia sangat perhatian, tetapi janganlah menerima cintanya karena kamu merasa kasihan kepadanya. karena rasa kasihan dapat berujung dengan kelehan pikiran untuk selalu menerima kekurangannya dan perang batin dalam diri kamu.
  • Perselingkuhan
Banyak pasangan kekasih yang dulunya mesra dan rukun-rukun saja, hancur karena salah satu pihak berselingkuh. celakanya, tidak sedikit pasangan cinta memutuskan untuk berpisah karena kekasih mereka berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri. ini bukan sekedar cerita, sudah banyak bukti seorang kekasih lari ke pelukan sahabatnya karena membutuhkan pengertian dan pemahaman yang tidak didapat dari pasangannya.
Perselingkuhan sangatlah menyakitkan dan menimbulkan luka yang teramat lama untuk disembuhkan. perselingkuhan menunjukkan sikap bimbang dan tidak teguh pendirian. Dalam cinta, dibutuhkan sikap teguh dalam mempertahankan dan merawat Cinta
  • Terlampau Banyak Berharap
Cinta pertama seringkali menumbuhkan harapan yang terlampau berlebihan. Padahal, Cinta pertama adalah ointu pertama bagi kamu untuk mengenal cinta secara lebih mendalam. Sikap kamu yang terlampau banyak berharap pada cinta yang kamu bangun dengan kekasihmu dapat memunculkan banyak keinginan dan ideal-ideal yang seringkali sulit untuk dipenuhi.
Ketika Cinta terbebani oleh banyak harapan, ia akan tergencet dan hancur. terlampau berharap juga muncul perasaan cinta yang menggebu-gebu, sebuah cinta yang tidak dewasa. jangan berharap bahwa kekasihmu dapat melakukan semua hal demi Cinta.
  • Terlampau Pemaaf atau Pendendam
Dua sikap berada pada kutub yang berbeda, pada ujung-ujungnya yang ekstrem. ketika kekasihmu melakukan kesalahan (berselingkuh, misalnya), dan kamu mudah untuk memberikan maaf bukanlah sesuatu yang selalu baik memberikan maaf tanpa alasan yang jelas hanya akan memebrikan keleluasaan  kekasih untuk melanggar 'Sumpah Cinta' itu. Ada dua jenis kesalahan: ada yang bisa dimaafkan dan ada yang tidak. bersikap tegas adalah cara ampuh untuk mempertahankan Cinta.
Sikap kedua: Yakni terlampau pendendam juga banyak menimbulkan masalah. ketika sebuah kesalahan terjadi dan kamu terlampau sering mengingatnya dan mendendam, sikap ini akan merusak jalinan kasih yang mungkin pernah selamat dar kecelakaan. terlampau mendendam akan menumpulkan kasih sayang terhadap kekasihmu.
  • Ketidaktahuan
Ketidaktahuan yang dimaksud di sini adalah ketika kamu terlampau muda untuk mengenal Cinta. kalian berdua sedang mencoba-coba menerjemahkan Cinta ke dalam sikap kalian sendiri, tanpa refrensi, kecuali yang ada dalam Film-film dan buku-buku. Ketidaktahuan bagaimana merawat cinta bukanlah kesalahan fatal, meskipun mengakibatkan putusnya hubungan.
Tentu saja, masih banyak alasan mengapa Cinta dapat berakhir. dan hanya kamu yang tahu alasannya. kadang-kadang sulit untuk diungkapkan kepada orang lain mengapa kalian memutuskan untuk berpisah. padahal, kalian awalnya tampak demikian mesra. tetapi cinta memang tidak memberikan garansi sepanjang hayat untuk selalu bersama. Toh, orang yang telah menikah puluhan tahun dapat bercerai hanya karena alasan yang sungguh tidak masuk akal.
Tetapi ketahuilah, patah hati bukan berarti kiamat. satu kisah patah hati hanyalah sepenggal sejarah dalam hidup kamu. masih panjang jalan yang akan kamu ukur dalam kurun waktumu ke depan nanti.

Di Posting berikutnya, mungkin saya akan Posting tentang Tujuh Langkah Menyembuhkan Patah Hatimu.



Apakah Cinta itu sehingga mampu membuat orang senang bukan kepalang, tetapi juga mampu membuat orang sedih tak terperih ?, mengapa Cinta demikian penting dalam kehidupan manusia ?, adakah yang lebih penting ketimbang memikirkan cinta ?

Honore de Balzac, seorang penulis Perancis kenamaa, pernah berujar " Cinta adalah Puisi yang memiliki beragram indra. Cinta adalah kunci untuk membuka segala sesuatu yang besar dalam takdir manusia. Cinta memilii makna yang luhur"

Cinta menurut Balzac memiliki banyak dimensi dan rasa. Cinta memiliki indra tersendiri sehingga dapat melihat, merasakan, menyentuh, menikmati, dan mendengarkan keindahan. Dengan cinta, manusia dapat membuka segala misteri besar manusia. Mungkin itulah sebabnya, cinta adalah salah satu hal pertama yang diciptakan oleh Tuhan dalam pikiran manusia. Bahkan sufi Islam kenamaan, Jalaludin Rumi, berkata lantang : "Agamaku adalah agama Cinta!"

Babak tentang Cinta terbuka ketika Adam dilahirkan. Ia sendirian. Ia berjalan seorang diri mengelana ke tempat-tempat yang jauh, dari keujung satu ke ujung lain dalam lingkaran surga. tetapi Adam begitu kesepian, maka Tuhan pun menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Hawa tercipta untuk menemani sang Adam! Dalam kepercayaan Hindu, rasa cinta dan cemburu telah tercipta sejak mula terciptanya alam semesta.

Sementara penyair romantik Samuel Taylor Coleridge mendeskripsikan Cinta sebagai 'Hasrat seluruh Mahkluk untuk bersatu dengan sesuatu atau dengan Mahkluk tertentu (sesuatu) yang dirasa perlu untuk melengkapi dirinya, dengan cara-cara yang paling sempurna yang diperbolehkan alam. Bagi Coleridge, manusia memiliki naluri untuk mendekati sesuatu yang begitu penting bagi dirinya untuk merasa 'sempurna' kelengkapan atau kesempurnaan begitu penting untuk menunjukkan jati diri manusia, dan perasaan menuju kelengkapan inilah yang dinamakan Cinta.

Utuk itu, Cinta awalnya ditemukan dalam diri kita sendiri. sebelum mencintai orang lain, kita harus mencintai diri kita sendiri. sebgaimana diungkapkan Cassandra Eason dalam A Magical Guide to Love & Sex, Cinta akan datang bersama 'diri'. Jika kamu tidak mencintai dirimu sendiri, kamu tidak memiliki batu pijakan sebagai ukuran untuk mencintai orang lain, dan perasaan ini mungkin saja akan mendorongmu untuk mencari pasangan yang 'sempurna' untuk menutupi kekurangan dan rasa takutmu.

Begitu Dahsyatnya Cinta sehingga Aristoteles pernah berkata " Gravitasi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas dua orang yang jatuh Cinta!" apa salahnya Gravitasi ? Pesona akan membuat dua insan saling tarik-menarik, yang selanjutnya menumbuhkan perasaan lain dan ingin selalu dekat. Gravitasi memang berkekuatan Dahsyat.

Cinta memang indah jika dua insan saling memahami. meskipun kadang-kadang cinta memang egois. "Cintaku adalah cinta yang egois. Aku tak bisa bernafas tanpamu!" Teriak Pujanggawan Keats kepada Fanny Brawne. Cinta egois yang indah! Inilah wajah lain dari cinta, selain Cinta yang menuntut pengorbanan, kadang cinta memang egois.

Tetapi cinta tidak melulu tentang kasih, cinta tidak melulu tentang kisah Romantis dua insan. Cinta bagi filsuf C.S. Leis, adalah anugerah. Cinta kepada Tuhan, cinta orang tua kepada anak, adalah bentuk-bentuk cinta anugerah yang tak mengenal pamrih, tanpa syarat, tanpa penuntutan. Cinta murni terbentuk karena naluri kasih sayang. Maka, kemudian muncul pula cinta saudara dan cinta antar teman. Dua-duanya adalah bentuk cinta anugerah yang tidak memiliki syarat apapun.

Mulanya adalah cinta. ketika dua Insan bertaut cinta, dunia adalah pemandangan yang teramat menyenangkan. Orang yang jatuh cinta berani menghadapi resiko tertinggi sekalipun, sebagaimana Legenda Romeo dan Juliet, yang membuat dua keluarga berseteru sepanjang masa. Lihat pula, bagaimana kisah Rama da Shinta.

Kita adalah Mahkluk yang menyukai kesenangan, kesehatan, dan kebahagiaan. Dengan demikian, kita merindukan ikatan dengan orang lain secara emosional. kerinduan ini membuahkan hubugan yang sejati untuk bersama-sama mengekspresikan kebutuhan akan 'Kesatuan' melalui cara-cara yang indah. Sampai di sini, peran cinta begitu besar dalam menerjemahkan Hasrat dan kerinduan ke dalam sikap saling memperhatikan dan Menyayangi.

Namun, Cinta bukanlah hal yang sederhana. Dalam buku Love and Relationship, Vikas Malkani menuliskan beberapa syarat untuk menjaga Cinta agar tetap hidup.
Syarat-syarat itu di antaranya :

  • Cinta Membutuhkan Usaha.
Cinta tidak pernah mati sebagaimana matinya tumbuhan. Ia mati karena sikap tak acuh dan saling mengabaikan. ketika cinta mati, salah satu pasangan atau dua-duanya telah mengabaikan cinta itu mereka telah gagal untuk memperbarui dan menyiraminya. sebagaimana Mahkluk hidup lainnya, Cinta membutuhkan usaha untuk menjaganya agar tetap sehat.

  • Cinta Mengetahui Apa yang Penting.
Sebagian orang takut bahwa ketika kecantikan menghilang, demikian pula cinta. Orang-orang semacam ini hanya memiliki pengetahuan sedikit tentang cinta dan kurang memiliki sikap saling menghormati, karena sesungguhnya : Kecantikan akan menghilang hanya karena ketika Cinta itu hilang.

Cinta membuat kita lebih nyaman satu sama lain dan saling menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan pasangan kita. Ketika kita menerima cinta, kita tidak memandang keindahan lahiriah. Kita berkosentrasi pada keindahan internal yang tak terpengaruh oleh waktu atau Zaman. Cinta tidaklah buta karena cinta mampu memandang Batiniah.
  •  Cinta Membutuhkan Pemenuhan.
 Hasrat tidak selalu seiring dengan apa yang terbaik dengan kita. hanya ketika kita merasa penuh dalam cinta, kita merasakan rasa aman, rasa damai, dan kepuasan yang sesungguhnya, orang yang tidak terombang-ambing oleh masa. Sebuah cinta yang saling mengasihi memberi harta batiniah yang melampaiui semua kenikmatan Lahiriah.
  •  Cinta Tidak Pernah Bosan Mengatakan "Aku Cinta Padamu"
Kita hendaknya tidak pernah merasa bosan mengekspresikan cinta atau mendengarkan Ekspresi itu. Cinta perlu dikatakan dan diucapkan, kapan saja dan di mana saja.
Nah, Bagaimana dengan Definisi Cinta menurut kamu?, bagaimana jalannya hubungan kamu dengan si dia?, apakah hubungan kalian bai-baik saja?, apakah kalian pernah duduk bersama mendefinisikan Cinta itu?.
Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa kamu jawab sendiri. Mendefinisikan Cintabegitu penting, manakala hubungan kalian begitu-begitu saja atau bahka sedang 'sakit' dan membutuhkan perawatan. Merawat pohon cinta sama halnya merawat pohon yang lain. Ia membutuhkan perawatan dan Kasih sayang. Dan ketika pohon Cintamu layu, akankah akhir dari segalanya?







Manusia tidak akan bisa lepas dari pikirannya dalam bertindak ataupun bersikap. Selama pikiran masih aktif manusia akan terus hidup dan beraktivitas. untuk lebih memahami mekanisme pikiran, ada baiknya kita mempelajari tga lapisan dalam pikiran manusia. tiga lapisan pikiran manusia adalah sebagai berikut :

  • Alam Sadar
 Alam sadar atau Conscious Mind merupakan lapisan pikiran yang paling luar. Tugasnya adalah menerima informasi yang diberikan oleh panca indra manusia seperti, menerima informasi tentang mengamati warna, merasakan tekstur sebuah benda, mendengar suara, dan informasi lainnya yang melibatkan panca indra manusia.

Sifat Alam Sadar ini adalah menampung memory jangka pendek. Pengaruh pikiran sadar terhadap perilaku manusia memang tidak begitu banyak. menurut beberapa Pakar, pikiran sadar ini hanya berpengaruh sebanyak 12% terhadap prilaku manusia.

  • Alam Kritis
Alam Kritis atau Critical Factor adalah bagian yang penting, karena melindungi pikiran bawah sadar dari informasi-informasi yang merugikan dan mengancam keselamatan manusia. karena sifat pikiran kritis ini menganalisa dan membanding-bandingkan informasi yang diterima oleh pikiran sadar. seperti ketika seseorang melakukan tindakan membantah maka yang aktif adalah pikiran kritisnya.

  • Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar atau sub-conscious Mind adalah tempat yang palin dominan untuk mempengaruh perilaku manusia, dan menurut pakar, perilaku manusia 88% dipengaruhi oleh pikiran bawah sadarnya. di dalam alam pikiranbawah sadar menyimpan beberapa faktor kunci terhadap perilaku manusia seperti presepsi, emosi, kebiasaan, intuisi, memory jangka panjang, kreAtivitas, belief and value, dan self image.
Dibalik pengaruh bawah sadar yang begitu besar, pikiran ini memiliki kepercayaan yang begitu besar terhadap pikiran kritis sehingga apapun yang diberikan oleh pikiran kritis akan selalu diterima oleh alam bawah sadar.
Alam bawah sadar memegang peranan yang besar terhadap perilaku manusia. Namun, pikiran kritis memegang kendali terhadap informasi yang masuk ke dalam bawah sadar.
Apabila terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar, maka pikiran bawah sadar selalu menang. kita ambil contoh seorang perokok yang sulit berhenti merokok. 
Kebiasaan merokok adalah hasil kerja dari pikiran bawah sadar. sedangkan keinginan untuk berhenti merokok adalah hasil logika pikiran sadar. perokok ingin berhenti merokok merugikan secara kesehatan maupun ekonomi. Namun, logika bahwa rokok itu merugikan esehatan dan menguraskan kantong terkalahkan oleh kebiasaan yang sudah tertanam kuat di pikiran bawah sadar.
Havens dan Walter dalam bukunya Hipnotherapy Scripts: A Neo-Ericksonian Approach, menyebutkan antara pikiran bawah sadar dan pikiran sadar dapat diibaratkan seorang Kapten dan anak buah kapal (ABK). sedangkan diri anda adalah kapal itu sendiri. Kapten sebagai pikiran Sadar menentukan arah dan tujuan kapal, sedangkan ABK sebagai pikiran bawah sadar yang menjalankan kapal.
Kapal akan selamat sampai di tujuan jika ada kerjasama yang baik antara Nahkoda dengan ABK. Masalah akan timbul bila terjadi perbedaan tujuan antara kapten dan ABK. Masalahnya, kapten (pikiran sadar) kadang tidak tahu apa yang diinginkan ABK (pikiran bawah sadar), sehingga kehidupan seolah tidak seperti yang anda inginkan. padahal itu adalah keinginan ABK yang seharusnya anda pimpin. 
Hipnotis memungkinkan Anda untuk meingkatkan kendali terhadap Pikiran bawah sadar anda. sehingga anda bisa menggunakan daya yang sangat besar itu untuk kesembuhan, kesuksesan dan pengendalian diri. dengan hipnotis andapun bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan negatif, misalnya : kebiasaan merokok dan menunda pekerjaan.

Terima Kasih, Semoga bermanfaat


Angger Withea. Powered by Blogger.