twitter


METODE DAN INSTRUMEN RISET PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

  
1.      Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Sunarto & Hartono (1994: 1) menjelaskan bahwa manusia dikenal sebagai makhluk yang berpikir (homo sapiens), makhluk yang berbuat (homo faber), makhluk yang dapat dididik (homo educandum) dan lain sebagainya. Dari pandangan tersebut dapat diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Jadi yang dimaksud  manusia secara utuh adalah manusia dengan sifat yang seimbang dari segi individu dan sosial, jasmani dan rohani, serta dunia dan akhirat. Karena manusia adalah makhluk yang kompleks tentunya manusia ini dalam hidupnya akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Sunarto & Hartono (1994: 3) pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik maupun biologis, sedangkan perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.
Gambar :Peserta Didik
                        Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa ada manusia ini juga merupakan makhluk yang dapat didik. Maka dari itu manusia membutuhkan pendidikan untuk keberlangsungan hidupnya. Pada saat itulah manusia memiliki kedudukan sebagai peserta didik. Peserta didik adalah setiap individu yang melakukan suatu kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan untuk membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik. Setiap peserta didik ini juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut akan menyebabkan perbedaan karakteristik setiap peserta didik. Sunarto & Hartono (1994: 4) setiap individu memiliki cirri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan .
Seorang guru ataupun tenaga pendidik merupakan seorang yang harus mendidik setiap peserta didiknya dan memajukan dari yang tidak bisa menjadi bisa. Namun demikian, setiap peserta memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga kemampuan mereka pun tidak sama. Dalam masalah ini, seorang tenaga pendidik akan dituntut bisa menghadapi situasi yang sedemikian rupa, karena beda karakter pasti beda pula cara menangani. Dari masalah inilah, seorang guru penting untuk mengetahi sejauh mana siswanya berkembang dan apa saja yang harus dilakukan serta apa saja yang diperlukan untuk melaksankan hal tersebut. Maka dari itu sangatlah penting bagi tenaga pendidik untuk memahami metode dan instrumennya yang akan diuraikan dalam bab pembahasan.

1.2. Rumusan Masalah
1)     Bagaimanakah definisi metode untuk mempelajari perkembangan peserta didik?
2)     Bagaimana jenis desain penelitian untuk mempelajari perkembangan peserta didik?
3)     Bagaimana jenis pendekatan penelitian untuk mempelajari perkembangan peserta didik?
4)     Bagaimanakah definisi dan jenis instrument riset perkembangan peserta didik?

1.3. Tujuan
1)     Menjelaskan definisi metode untuk mempelajari perkembangan peserta didik.
2)     Menjelaskan jenis desain penelitian untuk mempelajari perkembangan peserta didik.
3)     Menjelaskan jenis pendekatan penelitian untuk mempelajari perkembangan peserta didik.
4)     Menjelaskan definisi dan jenis instrument riset perkembangan peserta didik.


2.      Pembahasan

2.1 Definisi Metode dalam Perkembangan Peserta didik
Dalam kehidupan sehari-hari, kata metode sangat sering kita dengar dalam dunia keilmuan. Metode menurut Wiradi (carapedia.com, 2015) Metode adalah seperangkat langkah (apa yang harus dikerjakan) yang tersusun secara sistematis (urutannya logis). Metode berasal dari Bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Jadi metode ini sudah mencakup desain, pendekatan maupun instrumen.
Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu (wikipedia, 2013).Singkatnya metode merupakan cara berpikir atau cara apa yang harus dilakukan agar dapat mendapat sesuatu yang menjadi tujuan. Seorang tenaga pendidik atau sebut saja misalnya seorang guru akan selalu menggunakan metode dalam mengajar siswa dan sebagai cara untuk mengetahui sejauh mana ia (guru tersebut) dapat memberikan sebuah kemajuan atau perubahan. Cara yang guru tersebut pakai ialah sebuah metode dalam mengamati siswa. Kesimpulannya, dalam mengamati apa yang terjadi atau untuk mengamti perkembangan peserta didik, seorang tenaga pendidik pastilah memakai sebuah metode atau dapat juga disebut sebagai strategi dalam usaha mencapai sebuah tujuan.

2.2 Desain Penelitian untuk Perkembangan Peserta Didik
2.2.1 Desain Eksperimen
Desain eksperimental memungkinkan para peneliti menentukan secara tepat sebab-sebab perilaku (Santrock, 2002:59). Sesuai dengan namanya, metode ini dilaksanakan dengan suatu eksperimen. Dengan metode ini, para peneliti dapat menentukan hampir dengan tepat sebab-sebab terjadinya perubahan atau perilaku karena mereka menggunakan variable yang dapat dimanipulasi oleh mereka sendiri. Setiap perubahan hampir pasti diketahui karena tercatat secara teratur dengan mengamati eksperimen tersebut. Terdapat dua jenis variable yang digunakan yaitu Variabel bebas dan Variabel terikat.
Variabel bebas (Independent Variable) ialah faktor eksperimental yang dimanipulasi dan yang berpengaruh dalam eksperimen. Label bebas digunakan karena variable ini dapat diubah secara bebas dari factor lain (Santrock, 2002 : 65 ). Jadi variable ini merupakan bebas dan perubahannya tidak terikat oleh variable lain, variable ini bebas diubah oleh para peneliti. Perubahan variable yang dilakukan tentunya bukan tanpa sebab. Perubahan variable dilakukan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat terjadi pada suatu eksperimen jika variabel yang mempengaruhi berbeda. Variable yang kedua  adalah variable terikat (Depentdent Variable) ialah factor yang diukur dalam suatu eksperimen; factor itu dapat berubah karena manipulasi variable bebas. Label terikat digunakan karena variable ini bergantung pada apa yang terjadi pada subyek dalam eksperimen (Santrock, 2002:66).Variabel ini dapat berubah akibat pengaruh dari variable bebas.
Contoh penerapan metode ini misalnya ketika kita ingin mengetahui pengaruh jam belajar siswa terhadap nilai yang diperoleh siswa. Kita mengatur durasi belajar bagi beberapa siswa. Durasi belajar ini merupakan variable bebas karena tidak terpengaruh variable lain. Lamanya durasi belajar siswa juga bebas kita atur. Setelah melaksanakan belajar dengan durasi yang telah ditentukan tadi maka kita amati nilai siswa (nilai sebagai variable terikat ). Apakah durasi siswa yang belajar lebih lama dapat membuat siswa meraih nilai baik atau sebaliknya, atau justru tidak berpengaruh sama sekali.
Metode eksperimental memang dapat membantu kita dalam menentukan secara lebih tepat terhadap sesuatu objek pengamatan, namun metode ini tidak dilakukan dengan mudah. Pengamatan dan pencatatan yang ketat harus dilakukan. Masalah selanjutnya yang dihadapi ketika menerapkan metode ini ialah keadaan diluar kemampuan para peneliti. Terkadang ada hal-hal yang berada diluar kendali peneliti sehingga tidak dapat memungkinkan peneliti mengendalikan variable.

2.2.2       Desain Non – Eksperimen
a.      Korelasi
Dalam buku Life Span Development, Santrock berpendapat sebagai berikut :
Strategi Korelasional, tujuannya ialah menggambarkan kekuatan relasi antara dua atau lebih peristiwa atau karakteristik. Strategi ini sangat berguna karena semakin kuat peristiwa dikorelasikan (diihubungkan atau diasosiasikan), semakin efektif kita dapat meramalkan salah satu peristiwa atau ciri dari peristiwa atau ciri lain. (Santrock, 2002 : 64)
Dari metode ini, dapat dipahami bahwa suatu peristiwa berakibat pada peristiwa lain atau suatu peristiwa menyebabkan peristiwa lain. Terdapat hubungan atau kausalitas dalam setiap kejadian sehingga kita dapat menyimpulkan apa yang terjadi lewat penalaran. Yang juga harus diperhatikan dalam hal ini ialah penggambaran kekuatan relasi atara dua atau lebih peristiwa atau karakteristik.
Jadi kita harus mengetahui seberapa besar/kuat relasi yang akan memudahkan kita untuk mengamati apa yang terjadi selanjutnya karena terdapat hubungan kausalitas. Contohnya ialah jika seorang siswa malas belajar, mereka akan mendapatkan nilai jelek. Dari hal ini kita harus memahami relasi antar siswa yang malas dan nilai jeleknya. Apakah kemalasan siswa tersebut membuatnya mendapat nilai jelek atau sebaliknya yaitu karena mendapat nilai jelek maka siswa tersebut menjadi malas belajar atau juga ada factor lain yang menyebabkan siswa malas belajar seperti factor ketiadaan bahan belajar atau tidak cocok dengan guru mata pelajaran dan lain sebagainya.
b.      Deskriptif
Seluruh metode pengumpulan data yang telah kita diskusikan dapat digunakan dalam penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengamati dan merekam perialku. Secara otomatis, penelitian deskriptif tidak dapat membuktikan apa yang menyebabkan suatu fenomena, tetapi mengungkapkan informasi penting tentang perilaku seseorang (Santrock, 2007 : 64).  Jadi metode ini hanya mengungkapkan deskripsi dan informasi tentang sesuatu secara lebih mendalam dan bukan untuk mencari penyebab suatu perilaku atau peristiwa. Misalnya, jika kita mengamati seorang anak yang mempunyai nilai bagus, maka akan dideskripsikan bahwa anak itu mempunyai nilai bagus, mampu menguasai materi dengan baik dan deskripsi mendetail tentang keadaan anak yang mempunyai nilai bagus tersebut. Namun metode ini tidak mencakup apa penyebab anak tersebut dapat mempunyai nilai yang bagus.

c.       Komparatif
Penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena (Nazir dalam Mohammad Rosyid, 2014).  Komparatif juga bersifat membandingkan persamaan dan perbedaan dari objek yang diteliti. Cara ini hampir mirip dengan deskriptif tetapi perbedaannya bahwa cara ini menganalisis penyebab terjadi atau mengapa suatu fenomena muncul, berbeda dengan deskriptif yang tidak mencakup hal-hal tersebut, itulah perbedaan antara keduanya. Misalnya ialah seperti diuraikan diatas tentang anak yang mempunyai nilai bagus dengan anak yang mempunyai nilai jelek. Dalam metode komparatif akan menguraikan juga tentang penyebab dan perbandingan keduanya seperti penyebab mempunyai nilai baik ialah  tersedianya bahan yang dipelajari dan jam belajar siswa disertai dengan kemampuan menerima materi dengan baik. Sebaliknya penyebab nilai jelek ialah tidak tersedianya bahan bacaan maupun kurangnya kemampuan menerima materi dengan baik.

2.3     Pendekatan Penelitian untuk Memahami Perkembangan Peserta Didik
2.3.1       Pendekatan Lintas-Seksional
Pendekatan lintas seksional ialah suatu strategi penelitian yang membandingkan individu-individu yang berbeda usia pada suatu kesempatan (Santrock, 2002 : 61). dalam metode ini para peneliti akan meneliti beberapa individu dengan variasi usia yang berbeda-beda. Dari usia yang berbeda-beda ini akan dibandingkan bagaimana perbedaan mereka dalam beberapa hal. Penelitian ini akan lebih efisien karena untuk mengamati tahapan kehidupan manusia misalnya peneliti tidak perlu menunggu seseorang untuk mencapai usia tertentu. Contoh penerapannya misalnya ketika kita ingin mengamati perkembangan peserta didik usia 5 – 15 tahun maka diambil masing – masing 2 orang anak dari setiap anak berusia 5 sampai 15 tahun. Setelah itu kita mengamati hal-hal apa saja atau perkembangan apa saja yang terjadi pada tiap-tiap usia 5 hingga 15 tahun dari anak-anak yang dijadikan contoh tadi. Namun jika ada kelebihan pastilah ada kekurangan.Kekurangan dalam metode ini adalah bagaimana sebuah proses perkembangan terjadi, bagaimana progress atau regressnya tentu akan sulit dilihat karena yang diketahui adalah hasilnya.

2.3.2       Pendekatan Longitudinal
Pendekatan Longitudinal (Longitudinal approach) ialahsuatu strategi penelitian yang mempelajari individu yang sama selama suatu periode waktu, biasanya beberapa tahun atau lebih (santrok, 2002 : 52). Pendekatan ini memakan waktu yang lama tetapi proses perubahan yang terjadi pada seseorang akan lebih terlihat jelas karena peneliti mengamati objek yang sama dan dengan jangka waktu tertentu. Penerapan pendekatan ini dalam meneliti perkembangan anak dari usia 5 hingga 15 tahun dengan cara mengambil misal 2 orang anak yang berusia 5 tahun. Maka kita amati apa saja yang terjadi atau perubahan/perkembangan yang terjadi hingga 2 orang anak tersebut berusia 15 tahun. Hal ini membuat peneliti akan dapat lebih jelas melihat perubahan-perubahan yang terjadi beserta proses terjadinya, namun penelitian dengan model pendekatan ini membutuhkan waktu yang sangat lama.

2.3.3       Pendekatan sekuensial
Pendekatan sekuensial (Sequential approach) ialah kombinasi rancangan lintas seksional dan longitudinal. Dalam banyak hal, pendekatan ini mulai dengan studi lintas seksional yang mencakup individu dari usia berbeda. Berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengukuran awal, individu yang sama diuji lagi – ini merupakan aspek longitudinal dari rancangan. Pada waktu selanjutnya, sekelompok subyek baru diiukur pada masing-masing tingkat usia (santrock, 2002: 52). Jadi dalam pendekatan ini, peneliti memadukan dua cara secara bertahap sehingga informasi yang tidak diperoleh dari pendekatan longitudinal maupun lintas seksional dapat diketahui menggunakan pendekatan ini. Misalnya untuk meneliti perkembangan peserta didik usia 5 hingga 15 tahun kita melaksanakan penelitian dengan cara mengambil masing-masing 2 orang dari setiap usia 5 hingga 15 tahun setelah itu kita amati perkembangan apa saja yang terdapat pada tiap usia (pendekatan cross-sectional). Setalah itu individu yang sama misalnya 2 orang dari usia 5 tahun kita amati kembali hingga usia mereka mencapa 15 tahun ( pendekatan longitudinal). Dengan cara ini kita dapat mengetahui dengan lebih jelas dan valid.

2.4     Definisi Dan Jenis Instrument Riset Perkembangan Peserta Didik
Menurut Suyanto dan Sutinah (2008:59) instrument riset adalah perangkat untuk menggali data primer dari responden sebagai sumber data terpenting dalam sebuah penelitian survey. Semua jenis instrument penelitian ini berisi rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau suatu permasalahan yang menjadi tema pokok penelitian.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pengumpulan data adalah proses, cara, perbuatan mengumpulkan, atau menghimpun data. Sedangkan instrumen adalah sarana penelitian (berupa seperangkat tes, dsb) untuk mengumpulkan data sebagai  bahan pengolahan.
            Menurut Suharsini Arikunto dalam Kholifah instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegitannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata dalam Kholifah menyatakan bahwa instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk merekam pada umumnya secara kuantitatif keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Jadi dari beberapa definisi tersebut dapat diketahui bahwa instrumen pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk mempermudah dalam memeperoleh informasi (data) dalam melakukan sebuah penelitian.
            Data sendiri menurut sifat dan bentuknya dibagi menjadi dua yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka sedangkan data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata atau susunan dari kalimat-kalimat. Menurut Sugiyono dalam Kholifah teknik pengumpulan data kuantitatif dapat dilakukan dengan cara interview (wawancara), kuisioner(angket), dan observasi atau pngamatan. Adapun untuk pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan dengan cara interview (wawancara), observasi (pengamatan), dokumen dan triangulasi. Pada dasarnya teknik atau cara pengumpulan data kualitatif ataupun kuantitatif adalah hampir sama hanya ada beberapa cara yang mungkin dapat digunakan pada pengumpulan data kualitatif namun tidak dapat digunakan pada data kuantitatif.

      Penjelasan mengenai teknik atau cara pengumpulan data adalah sebagai berikut.
a.      Wawancara (interview) dan Kuisioner
Menurut Singaribun (1928: 145) wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Dalam proses ini hasil wawancara ditentukan oleh beberapa faktor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus informasi. Faktor- faktor tersebut adalah pewawancara, responden, topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan dan situasi wawancara.
            Menurut Santrock (2002: 56) cara terbaik dan tercepat untuk memperoleh informasi dari seseorang adalah dengan meminta informasi kepada orang tersebut. Para pakar psikologi menggunakan wawancara dan kuisioner untuk mengetahui pengalaman serta sikap dari individu.
            Menurut Esterberg dalam Kholifah mendefinisikan interview sebagai a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa wawancara adalah pertemuan dua orang yang melakukan pertukaran informasi dengan cara bertanya dan menjawab, sehingga dapat memperoleh makna dari suatu topik.
            Model dari wawancara ternyata juga beragam mulai dari wawancara yang tidak terstruktur hingga wawancara yang terstruktur. Menurut Esterberg dalam Kholifah wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dimana peneliti tidak menggunakan pedoman berupa pertanyaan secara sistematis dalam pengumpulan datanya. Adapun wawancara semistruktur adalah pelaksanaan wawancara lebih bebas, dengan tujuan menemukan permasalahn secara lebih terbuka dimana responden dimintai pendapat dan ide-idenya. Sedangkan wawancara tersruktur adalah dimana pewawancara (peneliti) sudah mengetahui perkiraan informasi apa saja yang akan diperoleh, sehingga pertanyaannya sudah dipersiapkan beserta alternatif jawabannya. Biasanya untuk meneliti perkembangan peserta didik dapat dilakukan wawancara langsung ke peserta didiknya atau bisa wawancara melalui gurunya. Apabila langsung kepada peserta didiknya maka peneliti bisa mendapat informasi yang lebih akurat.
            Dengan menggunakan metode wawancara ini peneliti akan memperoleh informasi secara langsung. Jadi apabila ada jawaban dari responden yang kurang dimengerti bisa ditanyakan langsung pada saat itu. Perolehan informasi akan lebih akurat dan mendalam. Namun sayangnya dengan metode wawancara ini peniliti tidak dapat menjangkau banyak orang, karena biasanya wawancara dilakukan secara face to face.
            Selanjutnya adalah kuisioner, menurut Santrock (2002: 56) kuisioner ini hampir mirip dengan wawancara terstruktur hanya saja pertanyaan yang diajukan kepada responden dituliskan di atas kertas jadi responden tidak menjawab secara verbal kepada pewawancara namun menuliskannya dalam kertas tersebut. Adapun keuntungan dari cara ini adalah peneliti dapat menjangkau banyak orang karena tidak harus dilakukan secara face to face. Namun terkadang jawaban dari responden kurang akurat karena mungkin pertanyaan kurang spesifik atau responden kurang bisa memahaminya.
b.      Observasi (pengamatan)
            Observasi ini memiliki ciri yang lebih spesifik dibandingkan dengan wawancara dan kuisioner karena observasi tidak hanya menggunakan objek manusia tetapi juga alam. Menurut Sutrisno Hadi dalam Kholifah observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara proses yang paling penting adalah pengamatan dan ingatan.
            Berdasarkan proses pelaksanaannya observasi dapat dibagi menjadi dua yaitu observasi partisipan (participant observation) dan observasi non partisipan (non participant observation). Observasi partisipan adalah ketika peneliti ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang diobservasi. Sedangkan observasi non partisipan adalah ketika peneliti tidak ikut langsung dalam kehidupan orang yang diteliti melainkan hanya mengamati saja.
Adapun keuntungan dari observasi ini adalah peneliti dapat menegatahui banyak gejala yang terjadi secara langsung, dan hasil dari observasi lebih akurat serta sulit dibantah. Namun kekurangannya cara ini tidak dapat digunakan untuk meneliti sebuah peristiwa yang sudah berlangsung lama. Selain itu observasi ini sangat bergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat si peneliti. Untuk meneliti perkembangan peserta didik si peneliti dapat melakukan penelitian secara langsung di sekolah, taman bermain, penitipan anak ataupun tempat-tempat yang disukai anak. Dari pengamatan secara langsung ini si peneliti dapat langsung mengetahui bagaimana tingkah laku individu yang beragam.
c.       Tes terstandar
Menurut Aiken dalam Santrock (2007: 62) dari tes terstandarisasi ini memungkinkan pencapaian individu untuk dibandingkan dengan individu lainnya. Jadi dengan tes tersebut memberikan gambaran bagaimana kepribadian setiap individu. Tes terstandar ini biasanya dibuat oleh lembaga khusus atau lembaga resmi. Tes tersebut harus memenuhi syarat yang baik seperti validitasnya. Maksud dari standar disini adalah tes tersebut memiliki tolak ukur yang sama misalnya adalah tes tersebut dilakukan diwaktu yang bersamaan jadi kemungkinan kondisi peserta didik sama, diberikan pertanyaan-pertanyaan yang sama, memiliki waktu pengerjaan yang sama serta memiliki cara pengolahan hasil yang sama pula.
Contoh dari tes terstandar ini biasanya adalah tes intelegensi. Tes intelegensi ini dibuat oleh suatu lembaga resmi. Dalam tes intelegensi peserta didik diberikan berbagai persolan atau permasalahan yang harus diselesaikan. Persolan-persoalan yang diberikan memiliki tingkat kesukaran yang sama dan harus dikerjakan dalam waktu yang sama pula. Jadi dari hasil perolehan pengerjaan dapat diketahui bagaimana kecerdasan individu.
Menurut Gregory dalam Santrock (2007: 62) dijelaskan bahwa keuntungan utama dari tes terstandar ini adalah dapat memberikan informasi mengenai perbedaan individual antar manusia. Namun terdapat permasalahan juga dari pelaksaan tes terstandar ini, yaitu terkadang hasil tes tidak sesuai dengan kemampuan individu di luar tes. Biasanya individu tidak mendapat hasil rendah atau kurang maksimal dalam tes, namun di luar tes dapat memperoleh hal yang lebih baik. Permasalahan tersebut biasanya muncul karena adanya kecemasan pada individu. Maka dari itu terkadang hasil dari belum tentu menggambarkan kemampuan individu yang sebenarnya.
d.      Pengukuran Fisiologis
Menurut Susman & Dorn dalam Santrock (2007: 60) pengukuran fisiologis adalah penelitian biologi manusia, dengan menggunakan pengukuran fisiologis ini peneliti dapat memperoleh pengetahuan yang menakjubkan menegenai pikiran dan perilaku manusia. Pengukuran fisiologis ini digunakan untuk mengukur fungsi dari sistem sarat pusat, sistem saraf otonomi  dan sistem endokrin. Jadi dengan menggunakan pengukuran ini peneliti dapat mengetahui bagaimana fungsi dari biologis seseorang apakah sudah berfungsi dengan sempurna atau belum.
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan tulang belakang. Dengan menggunakan pengukuran terhadap sistem saraf pusat ini peneliti dapat menegetahui informasi mengenai otak dan kinerjanya. Dengan menggunakan pengukuran ini juga dapat diketahui fungsi dari otak bahkan juga kerusakan pada otak. Selain sistem saraf pusat terdapat juga sistem saraf otonomi yaitu berkaitan dengan organ-organ yang ada di dalam tubuh manusia. Sitem saraf tersebut berfungsi untuk membawa pesan dari maupun ke organ dalam tubuh, memantau proses detak jantung, pernafasan serta pencernaan. Selanjutnya terdapat sistem endokrin yaitu terdiri dari sekumpulan kalenjar yang mengatur aktivitas organ-organ tertentu dengan memproduksi maupun melepaskan produk kimia yang disebut hormon ke dalam aliran darah.
Dari pengukuran beberapa sistem saraf tersebut peneliti dapat mengetahui kinerja otak seseorang, kelainan yang terjadi pada seseorang , tingkat emosi maupun fisik seseorang. Pengukuran fisiologis ini juga dapat digunakan pada peserta didik jika dibutuhkan.  Misalnya apabila seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana masa pubertas pada anak-anak dapat diketahui dari perubahan tingkat hormon estrogen dan androgen pada anak tersebut.





3            Penutup
3.3     Kesimpulan
Metode merupakan cara berfikir atau cara yang harus dilakukan agar dapat mendapat sesuatu yang menjadi tujuan. Selanjutnya untuk mengetahui perkembangangan peserta didik ini juga terdapat beberapa desain yaitu Eksperimental sesuai dengan namanya desain ini menggunakan eksperimen dan non ekperimental yang terdiri dari korelasi, deskripti dan komparatif.
Pendekatan dalam penelitian perkembangan peserta didik juga diperlukan. Adapun jenis-jenis dari pendekatan antara lain adalah Lintas seksional adalah suatu strategi penilaian yang membandingkan individu yang berbeda. Lalu ada longitudinal approach dan yang terakhir adalah sekuensial approach.
Jenis instrumen riset perkembangan peserta didik dapat didefinisikan sebagai alat bantu yang dipilih dan digunakan peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data. Data dibagi menjadi dua yaitu kualitatif dan kuantitatif. Dalam pengupulan data tersebut terdapat beberapa cara yaitu wawancara, kuisioner, observasi, dan tes terstandar.
3.4     Saran
Dalam menangani peserta didik, pendidik harus lebih sabar dalam menanganinya, pendidik dapat menggunakan metode diatas agar bisa lebih mudah menangani para peserta didik yang beraneka ragam sifatnya. Karena jika salah dalam menanganinya maka akan berpengaruh pada perkembangan peserta didik di masa yang akan datang.


Daftar Rujukan
Carapedia. 2015.  Pengertian dan Definisi Metode Menurut Para Ahli. (Online), (http://carapedia.com/pengertian_definisi_metode_menurut_para_ahli_info497.html), diakses pada 27 Januari 2015.
Kholifah. Ummi.__. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitia. (http://e-journal. pengumpulan-data-dan-instrumen-penelitian_umi-kholifah_oke.com), (Online), diakses 28 Januari 2015.

Rosyid, Mohammad. 2014. Penelitian Komparatif. (http://pgsdberbagi.blogspot.com/2014/01/penelitian-komparatif.html), diakses pada 11 Februari 2015.
Santrock, John W. 1997. Life-Span Developmen: Perkembangan Masa Hidup (jilid 1). Terjemahan Damanik & Chusairi. 2005. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. _. Child Development: Perkembangan Anak. Terjemahan Rachmawati & Kuwanti. 2007. Jakarata: Erlangga.
Singaribun, Masri. 1982. Metode Peneletian Survey. Jakarta: PT. Repro Golden Victory.
Sunarto & Agung Hartono, 1994. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suyanto, Bagoeng & Sutinah. 2008.  Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana.
Wikipedia. 2013.  Metode.(Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Metode), diakses pada 27 Januari 2015.






Terima Kasih, Semoga bermanfaat


Angger Withea. Powered by Blogger.